Anak Petani Tak Ingin Jadi Petani, Pakar Golda Angkat Persoalan Regenerasi

Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda), Eva Dipanti Tumba

Portalkaltim.com, Kutai Timur — Keberlanjutan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, benih, dan teknologi, tetapi juga pada kesiapan generasi muda untuk meneruskan pekerjaan sebagai petani.

Persoalan regenerasi tersebut menjadi perhatian Direktur Golda Institut, Eva Dipanti Tumba, berdasarkan pengamatannya selama kurang lebih 15 tahun di berbagai daerah di Indonesia.

Eva menuturkan bahwa dalam interaksinya dengan anak-anak, ia kerap menanyakan cita-cita mereka ketika dewasa. Menurut pengamatannya, profesi seperti dokter, polisi, tentara, guru, dan pegawai negeri lebih sering disebut dibandingkan petani.

Bahkan, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga petani tidak selalu menjadikan pekerjaan orang tua sebagai cita-cita mereka. Dari pengamatannya di lapangan, Eva memperkirakan hanya sekitar 5 persen anak yang menyebut petani sebagai profesi yang ingin mereka jalani.

Dirinya juga mengamati bahwa pandangan keluarga terhadap pekerjaan pertanian dapat memengaruhi cara anak memandang masa depannya. Ketika pertanian dianggap sebagai pekerjaan berat dengan penghasilan yang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, anak-anak berpotensi mencari profesi lain yang dinilai lebih menjanjikan.

Bagi Eva, persoalan tersebut perlu dilihat lebih luas daripada sekadar minat anak. Kesejahteraan petani, kepastian pendapatan, akses terhadap lahan, pembiayaan, teknologi, dan pasar menjadi faktor penting dalam menciptakan masa depan pertanian yang menarik bagi generasi muda.

“Kalau pekerjaan petani terus dianggap sebagai simbol kemiskinan, jangan heran apabila anak-anak memilih profesi lain yang menurut mereka lebih menjanjikan,” ucap Eva dalam pandangan yang disampaikannya.

Ia menilai bahwa upaya membangun ketahanan pangan perlu disertai perhatian terhadap manusia yang akan mengelola sektor pertanian pada masa mendatang. Pendidikan juga dinilai memiliki peran dalam memperkenalkan pertanian sebagai bidang yang membutuhkan pengetahuan, inovasi, teknologi, dan kemampuan berusaha.

Menurutnya, anak muda tidak cukup hanya diajak mencintai pertanian. Mereka juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan usaha pertanian dengan prospek ekonomi yang layak.

Sejumlah negara maju telah memberikan dukungan nyata untuk regenerasi petani. Jepang menyediakan bantuan bagi calon petani selama pelatihan dan masa awal usaha, sementara Uni Eropa mendukung petani muda melalui akses lahan, pembiayaan, dan investasi.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda mencintai pertanian. Kesejahteraan, kepastian pasar, akses modal, dan teknologi juga perlu diperkuat agar pertanian menjadi profesi yang menjanjikan bagi generasi berikutnya.

Melalui perhatian terhadap regenerasi petani, diharapkan pertanian dapat menjadi bidang yang lebih menjanjikan bagi generasi muda. Keberlanjutan sektor ini menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. (IR)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7