Hal itu disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, saat memberikan sambutan pada peluncuran Sekolah Lansia yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Senin (29/6/2026).
Ardiansyah mengungkapkan, berdasarkan data tahun 2025, angka harapan hidup masyarakat Kutim mencapai 74,87 tahun. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kualitas hidup masyarakat yang terus mengalami peningkatan dan perlu dipertahankan melalui pola hidup sehat serta aktivitas yang produktif.
“Angka harapan hidup masyarakat Kutim saat ini mencapai 74,87 tahun. Ini menunjukkan kualitas hidup masyarakat kita semakin baik dan harus terus dijaga,” ujar Ardiansyah.
Ia menjelaskan, rata-rata usia harapan hidup laki-laki berada di angka 72,24 tahun, sedangkan perempuan mencapai 77,63 tahun. Data tersebut, menurutnya, sejalan dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Kutim pada 2025.
Meski demikian, Ardiansyah mengingatkan bahwa usia panjang harus diiringi dengan kondisi kesehatan yang baik. Karena itu, dirinya mengajak masyarakat, khususnya para lansia, untuk tetap rutin berolahraga sesuai kemampuan fisik masing-masing.
“Yang penting bukan olahraga berat, tetapi tubuh tetap bergerak. Aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara rutin jauh lebih baik untuk menjaga kebugaran sepanjang usia,” tuturnya.
Dalam sambutannya, ia turut mengajak para lansia menjaga pola hidup sehat mulai dari lingkungan keluarga. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat memperpanjang usia sehat.
dirinya turut mengapresiasi peran kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Lansia yang selama ini aktif mengingatkan masyarakat lanjut usia untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin.
“Saya berterima kasih kepada kader Posyandu Lansia yang terus mengajak para lansia memeriksa kesehatan. Ini sangat penting sebagai langkah pencegahan penyakit sejak dini,” ucapnya.
Selain menjaga kesehatan fisik, dirinya menilai para lansia tetap perlu mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Menurutnya, Sekolah Lansia menjadi wadah bagi para peserta untuk terus belajar, berbagi pengalaman, hingga menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia mencontohkan masih ada sejumlah lansia di Kutim yang tetap produktif dengan menghasilkan berbagai inovasi, salah satunya melalui pembuatan eco enzyme yang dimanfaatkan untuk mengurangi bau tidak sedap di lingkungan sekitar.
“Selama masih memiliki kemampuan, teruslah berkarya. Pengalaman dan ilmu yang dimiliki para lansia sangat berharga untuk dibagikan kepada masyarakat maupun generasi muda,” katanya.
Melalui Sekolah Lansia, pemerintah daerah (pemda) ingin membangun budaya belajar sepanjang hayat. Menurutnya, proses menuntut ilmu tidak mengenal batas usia sehingga para lansia tetap memiliki kesempatan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, maupun kualitas hidupnya.
“Kita berharap para lansia tetap semangat belajar. Sekolah Lansia bukan hanya tempat menambah ilmu, tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi, berbagi pengalaman, menjaga kesehatan, dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan positif,” jelasnya.
Pria kelahiran 1964 itu berharap meningkatnya angka harapan hidup di Kabupaten Kutim dapat diiringi dengan meningkatnya kualitas hidup para lansia. Dengan begitu, mereka tidak hanya berumur panjang, tetapi juga tetap sehat, mandiri, produktif, dan mampu memberi manfaat bagi keluarga maupun masyarakat.







