Peran Gokil Wakaf: Mulai dari Tempat Tangisan Pertama hingga ke Liang Lahat

Ilustrasi Satu Wakaf Indonesia, mudahkan masyarakat berwakaf dari nominal ringan dan manfaatnya bagi perjalanan hidup (portalkaltim.com/AI).

Portalkaltim.com, Samarinda – Coba bayangkan sebuah garis panjang kehidupan yang dimulai dari tangisan pertama bayi terdengar di sebuah rumah sakit, yang menjadikannya seorang individu baru di muka bumi. Ia tumbuh dan belajar di sekolah. Kemudian, ia berhasil lulus menjadi sarjana dari perguruan tinggi favoritnya. Lalu dirinya bekerja di perusahaan impian. Diakhir perjalanan hidupnya, ia “berpulang dan beristirahat” di liang lahatnya.

Di antara banyaknya fasilitas publik yang ia singgahi selama hidup, dari tangisan pertamanya di rumah sakit sampai ke liang lahat, ada seorang dermawan yang terus kebanjiran pahala tanpa henti bahkan setelah ia tiada. Kenapa? Karena semua fasilitas publik tadi adalah hasil wakaf si dermawan. Gokil, bukan?

Satu keputusan wakaf darinya bisa dimanfaatkan jutaan jiwa di masa depan. Inilah yang membedakan wakaf dan sedekah biasa. Sering kali sedekah habis terpakai hari ini, tetapi wakaf terus berjalan berkelanjutan.

Pertanyaannya, sudahkah kita memahami betapa gokilnya peran wakaf dalam perjalanan hidup manusia?

Mari menjelajahi waktu ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, dengan kisah wakaf menakjubkan lainnya. Wakil Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) drh Emmy Hamidiyah dalam seminar bertajuk “Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah dalam Memperkuat Stabilitas dan Kemandirian Ekonomi Kalimantan Timur,” oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) mengisahkan banyak peristiwa bersejarah terjadi berkat manfaat dari wakaf.

Wakaf Spektakuler para Sultan di Kawasan Timur Tengah

Sebuah rumah sakit didirikan di masa kejayaan Islam era klasik, yakni pada 1284 Masehi (M) bernama Bimaristan al-Mansuri di Cairo, Mesir. Bangunan yang kini masih ada dan berubah fungsi menjadi bagian dari Qalawun Complex di Islamic Cairo, dahulu memiliki lebih dari 8.000 tempat tidur pasien dengan fasilitas terlengkap di masanya.

Ada juga Rumah Sakit Nur al-Din Bimaristan di Damascus, Suriah. Didirikan oleh Nur al-Din Zengin pada 1154 M, menjadikan rumah sakit ini sebagai pusat pengobatan sekaligus tempat pendidikan kedokteran terkenal kala itu. Masih berdiri hingga kini, rumah sakit al-Din berubah fungsi menjadi Museum of Medicine and Science in The Arab World.

Di dunia pendidikan, ada perpustakaan terbesar dengan perkembangan ilmu pengetahuan paling pesat yang berdiri akhir abad ke-8 M, yang bernama Bayt al-Hikmah atau acap disebut House of Wisdom di Baghdad, Iraq. Bangunan ini didirikan pada masa kekhalifahan Abbasiyah dan diperkirakan berusia 1.200 tahun.

Wakil Sekretaris BWI drh Emmy Hamidiyah (tengah)
Wakil Sekretaris BWI drh Emmy Hamidiyah (tengah)

“Saat itu ada tujuh jenis perpustakaan, dari masjid, publik, hingga kantor,” kata Emmy mengisahkan dengan semangat.

Indonesia dengan Sejarah Wakaf Paling Fenomenal di Awal Kemerdekaan

Di Indonesia sendiri saat awal-awal masa kemerdekaan yang masih memerlukan dukungan ekonomi, tak lepas dari jasa wakaf walau bukan dalam arti fikih formal. Di mana, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan pemerintah 6,5 juta Gulden Belanda atau setara dengan Rp61,75 miliar. Juga, Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak Sri Indrapura menyerahkan sekitar 13 juta Gulden Belanda atau senilai kurang lebih Rp1.074 triliun.

Wakaf harta dari keduanya dipergunakan untuk membiayai jalannya pemerintahan Republik Indonesia (RI) yang baru berdiri, mendanai kebutuhan perjuangan perang, memenuhi kebutuhan warga yang terdampak perang, dan menopang ekonomi negara yang masih kosong.

Tak boleh tenggelam dalam perjalanan waktu. Sejarah juga mencatat pada 1948, rakyat Aceh bersama Sultan Siak menyumbang untuk membeli pesawat pertama dan kedua untuk Indonesia, yakni Pesawat Dakota RI-001 Seulawah dan Pesawat Dakota RI-002 Seulawah.

Pesawat ramping sepanjang 19,66 meter dengan rentang sayap 28,96 meter ini dibeli dari hasil patungan emas dan uang, yang dikumpulkan atas permintaan Presiden Pertama RI Soekarno untuk memperkuat perjuangan Indonesia. Burung besi ini difungsikan untuk menerobos blokade udara Belanda, mengangkut senjata dan logistik militer, menerjunkan prajurit ke wilayah perang, misi diplomatik, dan cikal bakal dari Indonesian Airways.

Sosok Saudagar Dermawan, Wakif Favorit Warga Aceh

Masih dari Aceh.

Seorang saudagar asal kota Serambi Makkah bernama Habib Bugak Asyi, diketahui memiliki wakaf produktif di sekitar Masjidil Haram, Makkah, khusus untuk jamaah haji dan pelajar dari Aceh.

Beberapa aset Habib Bugak yang diwakafkan, seperti Hotel Elaf Masyair, Hotel Ramada Ajyad, Hotel Habib Bugak di Aziziyah, Kantor Wakaf di Aziziyah hingga hunian khusus warga Aceh di Aziziyah, yang semua berada di kawasan Makkah.

“Hotel itu memberi uang saku sekitar Rp8,6 juta untuk jemaah haji asal Aceh, dan asetnya kini mencapai Rp5,2 triliun,” ungkap Emmy yang membuat pendengar kala itu kagum atas kebaikan Habib Bugak.

Belum Familiar dengan Wakaf? Ini Kilas Balik Wakaf di Zaman Rasulullah

Mungkin tidak semua dari kita akrab dengan kata wakaf. Secara sederhana, wakaf adalah menahan harta agar tidak dijual, tidak dihibahkan, maupun tidak diwariskan, dengan tujuan dimanfaatkan demi kemaslahatan sehingga hasilnya dapat disedekahkan.

Wakaf dikenal sejak zaman Rasulullah SAW.

Ada beberapa kisah terkenal terkait wakaf. Namun yang paling terkenal adalah kisah Umar bin Khattab RA, yang memiliki sebidang tanah di Khaibar dan meminta petunjuk Rasulullah SAW untuk kegunaannya.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA: “Dari Ibnu Umar RA, ia berkata: “Umar bin Khattab telah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu ia mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk.”, Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah mendapat sebidang tanah di Khaibar yang saya belum pernah mendapat harta sebaik itu. Apa yang engkau perintahkan untukku?” Rasulullah SAW bersabda: “Bila kau ingin, kau tahan pokok (pokoknya) tanah itu dan engkau sedekahkan (hasilnya).” Umar pun menyedekahkan (hasil tanah) itu, yang mana (pokoknya) tidak untuk dijual, dihibahkan, dan diwariskan. Ia menyedekahkan kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, ibnu sabil, dan untuk tamu. Orang yang mengelolanya (nazhir wakaf) tidak dilarang untuk memakan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.” (HR. Bukhari, No.2737)

Dari BWI, terdapat tiga jenis wakaf berdasarkan peruntukannya: Khairi, Ahli, dan Musytarak.

1. Wakaf Khairi atau wakaf sosial.

Ini diperuntukkan bagi kepentingan umum dan bisa dimanfaatkan terus-menerus bagi masyarakat luas. Contohnya: rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, sumur hingga hutan.

2. Wakaf Ahli atau wakaf keluarga.

Ini dimanfaatkan bagi keluarga baik keturunan maupun kerabat si wakif. Misalnya, seorang kakek mewakafkan sawahnya kepada keluarga agar hasil panen bisa menjadi biaya hidup mereka.

3. Wakaf Musytarak atau wakaf campuran.

Di mana wakaf ini hasil gabungan antara Khairi dan Ahli. Maka sebagian hasil akan menjadi milik keluarga wakif dan sebagian lagi untuk masyarakat umum. Contohnya, pemilik ruko mewakafkan usahanya dengan hasil 50 persen diperuntukkan bagi keluarganya dan 50 persen dipergunakan oleh fakir miskin serta anak yatim.

Ada juga tambahan wakaf yang dikenal luas saat ini, yaitu Wakaf Uang atau Waqf al-Nuqud. Wakaf dalam bentuk uang tunai atau surat berharga yang nantinya dikelola dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan umum.

Wakaf, Instrumen Strategis Dongkrak Ekonomi Syariah di Benua Etam

Kini, kita sudah familiar dengan wakaf melalui arti sederhananya. Lalu, mengapa wakaf mulai diserukan di Kaltim?

Tahukah kamu bahwa mayoritas agama penduduk di provinsi yang dijuluki “Benua Etam” ini adalah Islam? Dengan presentase 87,37 persen dari total populasi, Muslim di Kaltim membawa pengaruh yang besar terhadap perputaran ekonomi lewat penggunaan Bank Syariah, jual beli produk baik makanan, minuman hingga fashion berlabel halal, dan peningkatan pangsa pembiayaan syariah sejalan dengan peningkatan sektor UMKM halal, serta gencarnya pemerintah mengajak pelaku usaha untuk bersertifikasi halal.

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayuadi Hardiyanto dalam seminar yang sama mengungkapkan, sinergi keuangan dan ekonomi syariah memiliki peran strategis dalam kemandirian ekonomi daerah. Bahkan, ini dibuktikan dengan ketangguhannya terhadap krisis saat Covid-19 menerjang, dengan melalui prinsip syariah yang berbasis keadilan, transparan dan mitigasi risiko.

“Ekonomi syariah terbukti tangguh saat krisis. Pada 2020, pembiayaan syariah perbankan naik 70%, sementara konvensional justru menurun,” tutur Bayuadi.

Tentu saja, wakaf menjadi salah satu instrumen dalam mendongkrak ekonomi syariah di Kaltim. Wakaf juga menjadi pondasi sosial yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi umat, lewat pemerataan pendidikan, kesehatan, pertanian, pemberdayaan UMKM, dan semua itu akan terus berkelanjutan.

Harta Pas-pasan Mau Ngikut Jejak Wakaf Ala para Sultan? Bisa!

Mungkin, terpikirkan oleh kita semua butuh berapa banyak harta untuk mewujudkan wakaf spektakuler ala para sultan tadi, ya? Tahukah kamu bahwa sekarang berwakaf bisa dimulai dari Rp10 ribuan, lho.

Betul, kamu tidak salah lihat. Satu lembar yang bahkan cukup beli jajanan cilokmu itu bisa berubah menjadi kisah wakaf inspiratif para sultan tadi. Caranya juga gampang dan praktis, bahkan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja melalui ponsel.

BWI merupakan lembaga negara independen yang berada di bawah naungan langsung Presiden RI, meluncurkan website “Satu Wakaf Indonesia” untuk kemudahan berwakaf secara digital dengan nominal ringan, melalui tata cara berikut:

1. Buka website https://apps.satuwakaf.id.

2. Klik menu “Akun” dan daftarkan email serta isi data diri, seperti nomor WhatsApp sampai domisili.

3. Klik menu “Beranda” untuk memilih program berwakaf dan klik program yang diinginkan.

4. Tekan “Wakaf Sekarang” dan akan muncul barcode Qris untuk lanjut pembayaran.

5. Scan barcode dengan ponsel atau screenshot QR code.

6. Buka aplikasi dompet digital, seperti DANA, OVO, Gopay, Qris Bank dan lainnya.

7. Pilih opsi “Pay” atau “Scan”.

8. Upload tangkapan layar (hasil screenshot) dari QR code tadi.

9. Masukan PIN dompet digitalmu.

10. Jika pembayaran selesai dan berhasil, nantinya muncul notifikasi.

11. Wakaf akan otomatis tercatat dalam program yang bisa dilihat saat menggulir layar ke bawah dengan tulisan “Wakif”.

Ayo menjadi Wakif! Dikit-dikit Jadi Bukit

Di awal, kita sudah membayangkan bagaimana semua fasilitas dari tempat tangisan pertama bayi terdengar hingga liang lahat berasal dari wakaf. Walau para sultan memang memulai dengan “jor-joran”, bukan berarti kita sebagai masyarakat biasa “in this economy” tidak mampu menirunya, bukan?

Yang perlu kita semua dan generasi muda ketahui, Allah SWT melihat suatu perbuatan bukan dari besar kecilnya nominal harta yang dikeluarkan duluan, melainkan niatnya.

Sama seperti bunyi hadist, dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Khattab RA, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan..,.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada hal yang telalu kecil untuk sebuah kebaikan yang dilandasi dari niat mendapat pahala dan rida Allah SWT. Ayo menjadi wakif dengan mulai sedikit demi sedikit. In Syaa Allah, pahalamu kelak menjadi bukit! (SH)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7