Dinkes Balikpapan Catat 1.310 Kasus Diare Selama September
Portalkaltim.com, Balikpapan – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mencatat 1.310 kasus diare sepanjang 1–19 September 2026. Peningkatan kasus menjadi perhatian di tengah musim kemarau, ketika keterbatasan air bersih dapat memengaruhi pola penggunaan air masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, mengatakan diare memang memiliki kecenderungan meningkat saat musim kemarau. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama karena anak-anak menjadi salah satu kelompok yang banyak mengalami kasus.
Hal itu disampaikan Alwiati di Kantor Pemerintah Kota Balikpapan, Rabu (23/9/2026). Menurutnya, ketersediaan air bersih yang terbatas juga membuat sebagian masyarakat harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Karena kita musim kemarau, biasanya pada musim kemarau memang trennya kasus diare meningkat. Penggunaan air bersih dan ketersediaan air juga sangat terbatas di Kota Balikpapan,” ujar Alwiati.
Berdasarkan pencatatan Dinkes, dari total kasus tersebut, puncak laporan terjadi pada minggu ke-36 dengan 597 kasus. Data itu menjadi dasar untuk terus memperkuat upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat selama kondisi kemarau masih berlangsung.
Kelompok anak menjadi perhatian khusus karena kasus diare cukup banyak ditemukan pada kelompok tersebut. Data yang disampaikan Dinkes mencatat 1.535 kasus pada anak, sementara kasus lainnya terjadi pada kelompok remaja dan dewasa.
Alwiati menjelaskan, diare pada anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan dan kebersihan air, tetapi juga dapat disebabkan infeksi virus, termasuk rotavirus. Salah satu langkah pencegahan yang didorong adalah pemberian imunisasi rotavirus kepada bayi untuk mengurangi risiko diare dan mencegah kondisi menjadi lebih berat.
“Untuk kasus yang di Balikpapan, tidak ada yang sampai parah,” katanya.
Meski terdapat kasus yang membutuhkan penanganan, tingkat keterisian puskesmas dan rumah sakit akibat diare disebut belum tinggi. Pasien yang dirujuk umumnya merupakan kasus dengan kondisi lebih berat, sedangkan jumlahnya masih terbatas.
Perhatian juga diberikan terhadap penggunaan air untuk kebutuhan bayi dan balita. Bagi bayi yang mengonsumsi susu formula, air yang digunakan harus memenuhi standar kebersihan dan keamanan karena kualitas air dapat berpengaruh terhadap kesehatan anak.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes memperkuat sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Edukasi tidak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga lingkungan perkantoran dan sekolah agar pencegahan dapat dilakukan secara bersama-sama.
“Selalu cuci tangan sebelum melakukan aktivitas dan setelah melakukan aktivitas. Cuci tangan ini yang paling penting. Sebelum makan juga harus cuci tangan,” tegas Alwiati.
Menurutnya, kebiasaan mencuci tangan harus dilakukan dengan benar, yakni menggunakan air dan sabun di bawah air mengalir. Langkah sederhana tersebut menjadi salah satu cara yang terus ditekankan untuk membantu mencegah penularan penyakit, termasuk diare, selama musim kemarau.
Dinkes juga mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan kebersihan air dan makanan, khususnya ketika ketersediaan air bersih terbatas. Pencegahan sejak tingkat keluarga diharapkan dapat menekan risiko peningkatan kasus sekaligus menjaga kesehatan masyarakat Balikpapan.(IM)
![]()
Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7







