Salat Istisqa di Kutim, Muhasabah Bersama di Tengah Kemarau Panjang

Portalkaltim.com, Kutai Timur — Kemarau yang masih berlangsung di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak hanya dihadapi melalui langkah teknis, tetapi juga menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan muhasabah, memohon ampun, serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan Allah SWT.

Sekitar 200 jemaah berkumpul di Lapangan Kantor Bupati Kutim, Sabtu (29/8/2026) pagi, mengikuti Salat Istisqa dan doa bersama yang diinisiasi Kodim 0909/KTM, Polres Kutim dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim).

Aparatur pemerintah, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), tokoh agama dan masyarakat hadir dalam ikhtiar tersebut.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Bupati Mahyunadi serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut berada di tengah jemaah.

Kehadiran para pemimpin daerah memberi pesan bahwa menghadapi kemarau bukan hanya persoalan kebijakan dan penanganan lapangan, tetapi juga ruang untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sebelum dua rakaat Salat Istisqa dilaksanakan, Ustaz Abdul Basid mengajak jemaah mengisi momentum tersebut dengan doa dan permohonan ampun. Ia berharap hujan yang turun nantinya bukan sekadar mengakhiri kekeringan, tetapi menjadi rahmat yang membawa kehidupan bagi manusia, tanaman dan lingkungan.

“Berikan kami hujan keberkahan, ya Allah. Bukan hujan yang membawa adzab, melainkan air yang menyuburkan tanah, menghidupkan tanaman, dan mencukupi kehausan makhluk-Mu di bumi Kutai Timur ini,” ucap Abdul Basid.

Setelah tausiyah, jemaah menunaikan Salat Istisqa dengan khusyuk, dilanjutkan pembacaan doa qunut khusus pada rakaat kedua dan doa bersama. Dalam suasana tersebut, permohonan yang dipanjatkan bukan hanya tentang turunnya hujan, tetapi juga tentang keberkahan dan kebaikan yang menyertainya.

Bagi Ardiansyah, doa tidak menggantikan ikhtiar manusia, melainkan melengkapinya. Pemerintah bersama berbagai unsur telah melakukan upaya teknis untuk menghadapi kekeringan, sementara Salat Istisqa menjadi bentuk pengakuan bahwa ada hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia.

“Kita telah berikhtiar secara teknis di lapangan, dan hari ini kita sempurnakan dengan doa. Semoga Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya melalui hujan yang berkah, menyegarkan kembali bumi Kutai Timur, dan mengakhiri masa kekeringan ini,” ujar Ardiansyah.

Kemarau akhirnya menghadirkan pelajaran tentang ketergantungan manusia terhadap alam sekaligus kebesaran Allah SWT. Ketika tanah mengering dan kebutuhan air semakin terasa, masyarakat kembali diingatkan bahwa kehidupan tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Salat Istisqa tersebut menjadi ruang untuk berhenti sejenak, menundukkan diri dan mengevaluasi hubungan manusia dengan Tuhan maupun lingkungan.

Doa agar hujan segera turun berjalan bersama harapan agar masyarakat tetap menjaga alam dan menjalankan ikhtiar secara bertanggung jawab.

Di tengah ketidakpastian kapan hujan akan datang, kebersamaan pemerintah, aparat, tokoh agama dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi kemarau.

Muhasabah tidak berhenti pada permohonan agar langit menurunkan air, tetapi juga menjadi pengingat untuk terus bersyukur ketika hujan kembali membasahi bumi Kutim. (SH/ADV)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7