482 Keluarga Berisiko Stunting di Telen Diburu Lewat Layanan Jemput Bola
Portalkaltim.com, Kutai Timur — Pencegahan stunting di Kecamatan Telen, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mulai diarahkan lebih dekat ke rumah keluarga sasaran.
Sebanyak 482 kepala keluarga (KK) yang teridentifikasi berisiko stunting menjadi sasaran layanan jemput bola agar data tidak berhenti sebagai angka dalam sistem, tetapi diikuti pendampingan langsung.
Layanan Jemput Bola Stop Stunting digelar di Aula Kantor Camat Telen, Desa Juk Ayaq, Rabu (26/8/2026), sebagai bagian dari Program Unggulan Bupati Kutim Prioritas Nomor 22.
Pemerintah kecamatan dan desa, Penyuluh Keluarga Berencana (KB), pemangku kepentingan terkait, serta Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Data Sistem Informasi Keluarga (SIGA) menunjukkan 482 KK berisiko itu tersebar di delapan desa dengan jumlah berbeda.
Muara Pantun mencatat angka tertinggi sebanyak 148 KK, kemudian Juk Ayaq 98 KK, Lung Melah 75 KK, Nehes Marah Haloq 44 KK, Kernyanyan 43 KK, Long Noran 39 KK, Long Segar 18 KK dan Rantau Panjang 17 KK.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DPPKB Kutim Yuriansyah mengatakan pemetaan tersebut digunakan untuk menentukan keluarga yang membutuhkan perhatian lebih awal.
Menurutnya, tugas DPPKB berada pada pengenalan faktor risiko dan pendampingan, sedangkan penanganan ketika anak sudah mengalami stunting menjadi ranah Dinas Kesehatan.
“DPPKB itu mendata keluarga yang berisiko stunting. Ketika sudah terkena stunting, penanganan dan eksekusinya menjadi ranah Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Pola jemput bola dipilih karena risiko stunting tidak selalu terlihat dari satu persoalan. Kondisi air bersih, sanitasi, rumah, balita, kesejahteraan keluarga, hingga penggunaan kontrasepsi menjadi variabel yang perlu dilihat untuk memahami persoalan setiap keluarga secara lebih utuh.
Kunjungan ke salah satu keluarga di Desa Muara Pantun memperlihatkan bagaimana data tersebut diterjemahkan ke kondisi nyata. Keluarga Ibu Rima, misalnya, memiliki anak dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang masuk dalam perhatian tim saat melakukan pemetaan risiko.
Intervensi juga tidak berhenti pada penyuluhan. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kutim menyerahkan bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara simbolis kepada keluarga sasaran untuk periode Juni, Juli dan Agustus, sedangkan distribusi lanjutan dilakukan Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Telen.
Yuriansyah menilai pola penanganan yang menyentuh langsung keluarga membutuhkan kerja lintas sektor. Sebab, keluarga yang sama-sama masuk kategori berisiko belum tentu memiliki penyebab dan kebutuhan intervensi yang seragam.
“Tidak mungkin pekerjaan menangani keluarga risiko stunting dilakukan sendiri-sendiri. Harus melalui kolaborasi semua pihak,” tegasnya.
Kasi Ketenteraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Telen Andi Sultiana Sultan menyambut pendekatan tersebut karena pemerintah hadir langsung mendekati masyarakat.
Menurutnya, kedekatan layanan dengan keluarga sasaran dapat membuat proses edukasi dan pendampingan lebih mudah diterima sekaligus mempercepat upaya menekan jumlah keluarga berisiko.
“Kami mendukung upaya penanganan ini sehingga keluarga berisiko stunting di wilayah Telen dapat berkurang dan percepatan penurunan stunting di Kutim terus ditingkatkan,” tandasnya.
Pendekatan ini menempatkan data sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Ketika 482 KK tersebut ditindaklanjuti melalui kunjungan, edukasi, bantuan, dan pendampingan sesuai persoalan masing-masing, pencegahan stunting memiliki peluang lebih besar dilakukan sebelum risiko berkembang menjadi masalah pertumbuhan anak. (SH/ADV)
![]()
Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7








