Kakao Fermentasi Karangan Tembus Bandung, Kutim Lepas Pengiriman Perdana 2 Ton

Suasana foto bersama Launching Ekspor Antar Daerah Produk Kakao

Portalkaltim.com, Kutai Timur – Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan mulai menunjukkan hasil. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) secara resmi melepas pengiriman perdana biji kakao fermentasi dari Kecamatan Karangan ke PT Rasantara Cipta Pangan di Bandung, Jawa Barat.

Pengiriman perdana tersebut menjadi tonggak baru bagi pengembangan kakao Kutim, khususnya dari Desa Karangan Ilir yang selama beberapa tahun terakhir konsisten mendorong peningkatan kualitas hasil perkebunan petani. Pada tahap awal, volume pengiriman mencapai dua ton per bulan dan berpotensi terus meningkat seiring bertambahnya kapasitas produksi petani.

Camat Karangan, Muhammad Reza Fahlevi, menyebut pengiriman perdana ini menjadi bukti bahwa kakao asal Karangan memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar luar daerah.

“Pengiriman perdana ini menjadi bukti bahwa kakao Kecamatan Karangan memiliki kualitas yang mampu bersaing dan menembus pasar di luar daerah. Dengan volume pertama ini dua ton per bulan, kami berharap kerja sama ini dapat terus berkembang sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat,” ujar Reza.

Kepala Dinas Perkebunan Kutim, Arief Nur Wahyuni, menjelaskan bahwa kakao dari Karangan telah memenuhi standar fermentasi nasional sehingga memiliki daya saing yang lebih baik dibanding biji kakao biasa.

Ia mengungkapkan bahwa komoditas kakao saat ini tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Karangan, Kaubun, Busang dan Teluk Pandan. Menurutnya, pengiriman perdana tersebut membuktikan bahwa kakao Kutim mampu bersaing di tingkat nasional.

“Standar operasional prosedur fermentasinya sudah memenuhi standar nasional. Ini sesuatu yang patut diapresiasi karena menunjukkan kualitas kakao Kutim semakin baik,” ucap Arief.

Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, Dinas Perkebunan berencana melaksanakan sekolah lapang kakao di Kecamatan Busang serta mengurus sertifikasi Indikasi Geografis (IG) agar kakao Kutim memiliki identitas dan ciri khas yang diakui secara nasional.

Sementara itu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai keberhasilan pengiriman perdana ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan ekonomi kerakyatan di tengah upaya diversifikasi ekonomi daerah yang selama ini masih didominasi sektor pertambangan.

Menurut Ardiansyah, Kutim memiliki potensi perkebunan yang besar, tidak hanya kelapa sawit tetapi juga kakao, aren, nanas, karet hingga lada yang masih dapat dikembangkan lebih optimal.

“Kalau memang kita siapkan Karangan, Kaubun, Busang dan wilayah lainnya, saya melihat kakao untuk Kutim ke depan masih punya peluang yang besar. Apalagi dari sisi cita rasa hasil fermentasinya memiliki keunggulan tersendiri,” tutur Ardiansyah.

Dalam kesempatan itu, Ardiansyah juga mengungkapkan bahwa luas lahan kakao di Kutim sebelumnya mencapai lebih dari 3.000 hektare. Namun sebagian lahan telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Meski demikian, ia menilai kakao masih memiliki keunggulan karena biaya operasional yang relatif lebih ringan dan nilai ekonomi yang menjanjikan bagi petani.

Kepala Desa Karangan Ilir, Jabir, menjelaskan bahwa wilayahnya saat ini memiliki sekitar 140 hektare lahan kakao produktif dengan potensi produksi mencapai 150 ton kakao kering per tahun. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan jumlah petani yang menghasilkan biji kakao fermentasi.

“Dari yang sebelumnya tidak ada sama sekali petani yang melakukan fermentasi, sekarang sudah sekitar 30 sampai 40 persen yang beralih. Karena peningkatan nilai ekonominya cukup besar,” jelasnya.

Jabir menjelaskan selisih harga antara biji kakao biasa dan biji kakao fermentasi dapat mencapai Rp20 ribu per kilogram. Karena itu, petani mulai tertarik mengubah pola pengolahan hasil panennya agar memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. > Julius: Pada pengiriman perdana sebanyak dua ton tersebut, nilai transaksi diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta. Angka itu dinilai menjadi gambaran besarnya peluang ekonomi yang dapat diperoleh petani apabila kualitas produk terus ditingkatkan.

Pemerintah daerah (pemda) berharap pengiriman perdana ini tidak berhenti sebagai seremoni semata, melainkan menjadi awal lahirnya rantai usaha kakao yang lebih kuat di Kutim. Di tengah upaya mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor tambang, kakao fermentasi dari Karangan mulai menunjukkan bahwa hasil perkebunan rakyat juga mampu membuka jalan menuju pasar yang lebih luas dan memberikan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat. (TS)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7