Balikpapan

Audisi Film Dayak Dibuka di Lima Provinsi, Jaring Talenta Lokal se-Kalimantan

Tokoh adat besar Dayak, Agustinus Jilah atau Panglima Jilah bersama Ketua Organisasi Masyarakat (Ormas) Dayak Se-Kalimantan

Portalkaltim.com, Balikpapan – Produksi film bertema budaya Dayak resmi memasuki tahap awal dengan dibukanya pendaftaran dan audisi secara serentak di lima provinsi di Kalimantan. Langkah ini menjadi strategi untuk menjaring talenta lokal sekaligus memperkuat representasi budaya dalam industri perfilman.

Tokoh adat Dayak, Panglima Jilah, menyampaikan bahwa proses audisi telah dimulai sejak 1 April dan akan berlangsung hingga 1 Juni 2026. Tahapan ini menjadi pintu masuk bagi masyarakat luas untuk terlibat langsung sebagai aktor maupun aktris dalam film tersebut.

“Pada prinsipnya kami melaporkan bahwa proses kegiatan telah dimulai dengan tahapan pendaftaran dan audisi yang berlangsung dari 1 April hingga 1 Juni,” ujarnya dalam konferensi pers di Balikpapan, Jumat, (10/4/2026)

Pelaksanaan audisi dilakukan secara bertahap di berbagai kota di Kalimantan. Di Kalimantan Timur, kegiatan berlangsung di Balikpapan dan Samarinda. Sementara Kalimantan Utara dipusatkan di Tanjung Selor dan Tarakan. Di Kalimantan Selatan, audisi digelar di Banjarbaru dan Batulicin, sedangkan Kalimantan Tengah di Palangka Raya dan Katingan Barat. Rangkaian ini akan ditutup di Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat.

Selain jalur casting umum, panitia juga membuka ruang partisipasi bagi organisasi masyarakat Dayak. Setiap organisasi diberikan kuota lima orang perwakilan yang dapat terlibat tanpa melalui seleksi formal, dengan syarat membawa surat tugas resmi.

Di sisi lain, keterlibatan aktor dari luar komunitas Dayak masih dalam tahap pembahasan. Pertimbangan ini mencakup kebutuhan produksi sekaligus komitmen untuk tetap mengedepankan identitas budaya lokal dalam film.

Untuk memperkuat nilai budaya, rangkaian audisi juga akan diramaikan dengan pameran seni di setiap daerah. Masyarakat lokal diberi kesempatan menampilkan karya budaya sebagai bagian dari promosi dan pelestarian tradisi.

Dari aspek produksi, penggunaan artis lokal menjadi prioritas utama. Selain dinilai memiliki kualitas yang kompetitif, langkah ini juga menjadi strategi efisiensi biaya, mengingat penggunaan artis dari luar daerah dapat mencapai Rp150 juta hingga Rp200 juta.

Film ini juga akan menghadirkan unsur musik lokal sebagai bagian dari identitas karya, termasuk kontribusi dari komunitas Mangkok Merah serta lagu Dohoy dari Kalimantan Tengah. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk memperkuat pesan persatuan dalam keberagaman budaya Dayak.

Adapun cerita yang diangkat berfokus pada kisah cinta yang terhalang adat, menggambarkan konflik pernikahan antar sub-suku Dayak yang berujung pada sanksi adat. Narasi ini diharapkan mampu menghadirkan kedalaman emosi sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya Dayak kepada khalayak yang lebih luas.

Melalui proses audisi yang terbuka dan inklusif, film ini diharapkan tidak hanya menjadi karya sinema, tetapi juga wadah pemberdayaan talenta lokal serta simbol kebangkitan budaya Dayak di tingkat nasional hingga internasional.(IM)

Loading