IKN Jadi Magnet, Dispar Kaltim Bidik Wisata Berbasis Lama Tinggal Pengunjung

NGOPI (Ngobrol Bareng Putri) bertajuk "Mengurai Tantangan Pariwisata Kalimantan Timur Menuju Level Industri dalam Upaya Transisi Ekonomi" di Rumah Ulin Arya Samarinda, Kamis (30/7/2026).

Portalkaltim.com, Samarinda — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menggeser arah pengembangan sektor pariwisata. Alih-alih mengejar status sebagai destinasi wisata massal seperti Bali, Kaltim memilih membangun strategi yang memanfaatkan arus kedatangan pebisnis, investor, hingga tamu pemerintahan agar tinggal lebih lama dan menggerakkan ekonomi lokal.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Muhammad Faisal menegaskan, karakter Kaltim sebagai daerah industri, perdagangan, dan jasa membuat kebijakan pariwisata harus disusun sesuai potensi yang dimiliki.

Kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai menjadi momentum besar untuk mengembangkan konsep wisata berbasis length of stay atau lama tinggal pengunjung.

“Kita tidak usah bermimpi menjadi provinsi pariwisata seperti Bali. Di Samarinda misalnya, ini kota dagang, industri, dan jasa. Bagaimana orang yang datang untuk berdagang atau urusan pekerjaan bisa tinggal satu hari lebih lama,” ujar Faisal, NGOPI (Ngobrol Bareng Putri) bertajuk “Mengurai Tantangan Pariwisata Kalimantan Timur Menuju Level Industri dalam Upaya Transisi Ekonomi” di Rumah Ulin Arya Samarinda, Kamis (30/7/2026).

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Faisal.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Faisal.

Menurutnya, tambahan waktu kunjungan selama satu hingga dua hari saja sudah mampu memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah.

Pengunjung tidak hanya menginap di hotel, tetapi juga menggunakan transportasi lokal, menikmati kuliner, membeli produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan oleh-oleh, hingga mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di Kaltim.

Faisal menjelaskan, tantangan terbesar Kaltim saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan menciptakan alasan agar setiap tamu yang datang memiliki keinginan untuk memperpanjang masa tinggalnya.

Karena itu, penguatan kualitas destinasi, promosi yang lebih terarah, serta kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam mendukung strategi tersebut.

“Satu orang datang bukan hanya masuk ke objek wisata. Ada transportasi, akomodasi, makan minum, oleh-oleh, ekonomi kreatif, dan banyak sektor lain yang ikut bergerak,” tuturnya.

Ia menilai mobilitas masyarakat yang terus meningkat seiring pembangunan IKN merupakan modal besar yang harus dimanfaatkan. Pemerintah pun didorong membangun ekosistem pariwisata yang melibatkan pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, hingga lembaga keuangan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Faisal optimistis peluang sektor pariwisata Kaltim akan terus berkembang seiring bertambahnya komunitas dan pelaku industri wisata.

Menurutnya, fokus pengembangan kini bukan menjadikan Kaltim sebagai “Bali baru”, melainkan menjadikan setiap kunjungan bisnis dan investasi sebagai pintu masuk untuk menggerakkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.

“Peluangnya bagus. Tinggal bagaimana orang-orang yang datang ke Kaltim itu bisa kita arahkan masuk ke sektor pariwisata,” pungkasnya. (SH)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7