Serapan Job Fair Samarinda Belum Optimal, Kompetensi Pencari Kerja Tak Sejalan dengan Lowongan

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Harminsyah, menyampaikan evaluasi terhadap pelaksanaan Job Fair 2026 di Go Mall Samarinda.

Portalkaltim.com, Samarinda – Pelaksanaan Job Fair di Samarinda masih menghadapi persoalan ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya jumlah pelamar yang berhasil terserap dalam kegiatan bursa kerja sebelumnya.

Persoalan ini menjadi catatan bagi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Samarinda agar penyelenggaraan Job Fair tidak hanya berorientasi pada jumlah lowongan yang tersedia. Pemetaan keterampilan pencari kerja dan kebutuhan industri dinilai perlu diperkuat supaya peluang yang ditawarkan benar-benar dapat diakses oleh masyarakat sesuai kompetensinya.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Harminsyah, mengapresiasi pelaksanaan Job Fair yang telah beberapa kali digelar. Namun, ia menilai kegiatan tersebut tetap perlu dievaluasi untuk mengukur dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja, bukan sekadar melihat banyaknya perusahaan dan lowongan yang berpartisipasi.

“Job Fair yang baru saja dilaksanakan di Samarinda Square, dari peluang yang dibuka pada saat itu, yang terserap sekitar 122,” ujar Harminsyah dalam pembukaan Job Fair 2026 di Go Mall Samarinda, Rabu (4/11/2026).

Dari jumlah tersebut, tingkat penyerapan disebut hanya berada di kisaran 20 persen. Harminsyah mengaitkan rendahnya capaian itu dengan kecenderungan pencari kerja yang lebih banyak memiliki keterampilan administrasi dan perkantoran, sementara jumlah lowongan pada bidang tersebut terbatas.

Di sisi lain, perusahaan yang membuka kesempatan kerja berasal dari berbagai sektor, termasuk perkebunan dan pertambangan. Perbedaan antara keterampilan yang dimiliki pelamar dan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan membuat peluang kerja yang tersedia belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Bagaimana Disnaker memetakan atau mengarahkan calon tenaga kerja yang mendaftar agar menyesuaikan lebih dahulu dengan kebutuhan perusahaan sehingga bisa sinkron,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemetaan kebutuhan tenaga kerja sebelum program pelatihan maupun penempatan kerja dilaksanakan. Harminsyah menilai Disnaker perlu mengarahkan pencari kerja agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan sektor usaha yang membuka lowongan, sehingga kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja dapat dikurangi.

Dalam Job Fair kali ini, terdapat 501 lowongan dari 25 perusahaan. Namun, Harminsyah mengaku belum memperoleh rincian mengenai bidang pekerjaan yang ditawarkan maupun kesesuaian kompetensi pelamar yang masuk, sehingga tingkat penyerapan pada kegiatan tersebut belum dapat dinilai.

“Nanti kita cek berapa serapan yang bisa diterima oleh perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan kerja ini,” tuturnya.

Selain substansi kegiatan, Harminsyah juga menyinggung pemilihan pusat perbelanjaan sebagai lokasi Job Fair. Menurutnya, penggunaan tempat tersebut dapat berkaitan dengan kerja sama bersama pengelola mal sekaligus menjadi pilihan yang lebih hemat dibandingkan penyelenggaraan di ruang terbuka yang membutuhkan tenda dan perlengkapan tambahan.

Ia menilai keterbatasan anggaran kemungkinan turut memengaruhi penentuan lokasi dan konsep kegiatan. Meski demikian, evaluasi terhadap hasil penyerapan tetap menjadi hal penting agar pelaksanaan Job Fair berikutnya tidak hanya mudah diselenggarakan, tetapi juga mampu mempertemukan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan secara lebih tepat. (SH)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7