OJK Kaltim Ingatkan Siswa, Game Online Bisa Menjadi Pintu Masuk Judi Online

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Misran Pasaribu bersama peserta penerima manfaat dalam acara Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Terintegrasi Samarinda.

Portalkaltim.com, Samarinda – Literasi keuangan bagi anak tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menabung, tetapi juga kemampuan memahami risiko dalam menggunakan uang dan layanan keuangan di tengah perkembangan teknologi.

Pesan tersebut mengemuka dalam puncak Hari Indonesia Menabung yang sekaligus mendorong program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) sebagai upaya membangun kebiasaan menabung sejak usia dini.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (OJK Kaltim-Kaltara) Misran Pasaribu mengatakan inklusi keuangan harus berjalan seiring dengan literasi agar masyarakat tidak sekadar menggunakan produk keuangan, tetapi memahami manfaat dan risikonya.

“Menabung bukan hanya tentang menyimpan uang, tetapi juga membangun karakter, melalui kebiasaan menabung anak-anak belajar disiplin, bertanggung jawab, sabar, serta mampu merencanakan masa depan dengan lebih baik,” kata Misran pada kegiatan tersebut, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan bersama karena masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan belum tentu memahami manfaat maupun risikonya secara menyeluruh.

Karena itu, Misran juga mengingatkan para siswa agar berhati-hati menggunakan gawai karena kemudahan teknologi dapat dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengenalkan aktivitas berisiko.

“Anak-anak sekalian hati-hati, jangan ikut-ikutan dalam game online di HP karena itu adalah pintu masuk untuk mulai berurusan dan pada akhirnya bisa masuk ke dalam judi online,” ujarnya.

Ia meminta orang tua dan guru ikut mengawasi penggunaan gawai oleh anak, terutama ketika mereka bermain gim daring yang berpotensi mengarahkan pada aktivitas perjudian, sehingga edukasi keuangan juga mencakup kemampuan mengenali risiko di ruang digital.

Selain menabung, Misran mendorong sekolah dan keluarga membangun kebiasaan mengelola uang secara sederhana agar anak mampu merencanakan kebutuhan, menghindari perilaku konsumtif, dan mulai mengenal layanan keuangan formal yang aman.

Program literasi dan inklusi keuangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembukaan rekening, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang membentuk kedisiplinan serta kesiapan anak dalam menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi pada masa mendatang. (SH)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7