Kisah Tragis Anak Berbakat, Eva: Pentingnya Membaca Genetika Darah Sejak Dini

Suasana seminar di Jakarta yang turut menghadirkan Eva Dipanti Tumba bersama 25 pelatih sepak bola profesional

Portalkaltim.com, Kutai Timur – Genetika darah bukan hanya sekadar huruf pada kartu medis, melainkan peta kehidupan yang seharusnya dipahami sejak dini, terutama oleh orang tua. Inilah pesan yang terus digaungkan Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba.

Eva, yang pernah bekerja sebagai perawat di sebuah perusahaan tambang dan banyak berinteraksi dengan keluarga karyawan, menemukan pola berulang. Banyak anak yang dianggap “nakal” atau “bodoh” ternyata hanya tidak mendapatkan pola asuh sesuai dengan cetak biru genetikanya.

“Setiap anak sudah membawa masa depan sejak masih di dalam kandungan. Orangtualah yang harus peka membacanya,” ucap Eva kepada Portalkaltim.com, Selasa (9/9/2025).

Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba
Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba

Lebih dari 15 tahun terakhir, Eva mendedikasikan hidupnya untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memahami golongan darah ABO (A, B, O, AB). Ia banyak menyaksikan kisah inspiratif sekaligus tragis dari anak-anak yang kehilangan arah hidup.

Salah satu kisah yang paling membekas adalah seorang anak berinisial J, bergolongan darah B, dengan bakat besar di olahraga voli. Bertubuh tinggi dan berprestasi hingga tingkat nasional, J justru terpaksa mengubur mimpinya karena dipaksa kuliah di jurusan pilihan sang ibu.

“Anak ini bukan tipe akademisi. Dia punya energi voli sejak dalam kandungan, karena ibunya dulu juga pemain voli dan aktif beraktivitas di luar rumah. Tapi dunia kuliah yang tidak ia minati membuatnya tertekan,” kenang Eva.

Sayangnya, J ditemukan meninggal dunia secara tragis. Sang ibu hanya bisa meratapi nasib yang tidak dapat diulangi kembali.

“Ibunya hanya bisa menangis dan bilang, ‘Saya terlambat, Bu Eva.’ Itu pesan mendalam yang selalu saya bawa dalam setiap perjalanan saya,” tuturnya.

Dalam sebuah seminar di Jakarta bersama 25 pelatih profesional, Eva juga mendapat pertanyaan mengapa Indonesia sulit melahirkan pemain bola berkualitas, padahal memiliki lebih dari 280 juta penduduk.

“Selama ibu-ibu kita lebih suka sinetron ketimbang olahraga, jangan berharap lahir generasi yang lihai di lapangan,” tegasnya.

Dari seminar tersebut, dirinya dipercaya menjadi konsultan tim nasional sepak bola dan bulutangkis, untuk membantu memahami potensi atlet dari sisi genetika darah.

Menurutnya, ibu berperan sebagai desainer pertama kehidupan anak. Apa yang dilakukan dan dirasakan saat hamil dapat memengaruhi ekspresi genetika anak. Bahkan, sejarah panjang penjajahan dan trauma kolektif bangsa bisa terekam lintas generasi.

Ia mencontohkan, saat seorang nenek hamil, sel telur yang kelak menjadi cucu sudah terbentuk di dalam ovarium sang ibu. Artinya, emosi nenek, baik ketakutan maupun kasih sayang, dapat terekam dan diwariskan.

“Gen orangtua kita membentuk cetak biru kehidupan. Emosi ibu, ketakutan, kasih sayang, semangat hidup, semua itu bisa mengubah ekspresi genetika anak,” jelasnya.

Lewat Golda Institut, Eva terus mengajak masyarakat lebih bijak memahami genetika darah, baik untuk mendukung pendidikan, kesehatan, maupun olahraga. Ia percaya bangsa akan lebih kuat bila kesadaran genetika dijadikan fondasi dalam mengasuh generasi penerus.

“Semoga tidak ada lagi Joko-Joko lain di luar sana,” pungkasnya. (TS)

Bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi lebih lanjut, Eva dapat dihubungi melalui kontak WhatsApp dengan nomor 0812-5857-323.

Loading