Karhutla Samarinda Capai 273 Hektare, DPRD Soroti Ancaman Meluas dan Krisis Air

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Deni HaKim Anwar.

Portalkaltim.com, Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda telah mencapai sekitar 273 hektare, kondisi ini memicu perhatian DPRD Samarinda karena ancaman kebakaran berpotensi meluas di tengah kemarau yang masih berlangsung.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Deni HaKim Anwar mengatakan, persoalan tersebut dibahas melalui rapat dengar pendapat (RDP) bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan penanganan dan mitigasi karhutla berjalan secara menyeluruh.

“Karhutla saat ini sudah sampai mencakup hampir 273 hektare, ini menjadi atensi kita, kita tidak ingin kebakaran hutan dan lahan ini meluas di Kota Samarinda,” kata Deni di Kantor DPRD Samarinda, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, kondisi lahan gambut menjadi salah satu persoalan yang menyulitkan proses pemadaman karena titik api berpotensi kembali muncul setelah permukaan lahan dibasahi, sehingga penanganannya membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan.

“Ketika dipadam basah sekali mereka akan muncul lagi atau hidup lagi titik apinya, ini juga perlu penanganan yang luar biasa,” ujarnya.

Deni menyebut satu langkah yang dilakukan Satgas adalah meningkatkan kesiapsiagaan selama 24 jam dengan memantau titik-titik api, termasuk kebakaran terbaru di Jalan Irigasi kawasan Palaran yang berada di lahan gambut.

Di sisi lain, ancaman kekeringan juga mulai dikaitkan dengan persoalan pasokan air bersih, khususnya kawasan Benanga yang berpotensi mengalami penurunan suplai akibat kondisi waduk dengan sedimentasi tinggi yang berdampak terhadap debit air.

“Tim dari PDAM dan PUPR sudah melakukan mitigasi dengan membuat alur Sungai Trik Dayung menuju Benanga, estimasinya paling lambat satu minggu mudah-mudahan bisa selesai sehingga dapat men-support waduk untuk mengalirkan air bersih kepada masyarakat,” jelasnya.

DPRD Samarinda juga berencana menggerakkan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR untuk ikut menopang penanganan karhutla, terutama karena ancaman kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

“Kita tidak ingin mereka hanya mengambil hasil alamnya saja, tapi kita ingin sumbangsih dan eksistensi mereka bisa membantu penanganan masalah karhutla ini,” tegas Deni.

Ia berharap operasi modifikasi cuaca (OMC), water bombing, pemantauan titik api, serta langkah mitigasi lainnya mampu menekan penyebaran kebakaran dan membantu menghadirkan hujan di Samarinda, sehingga tekanan terhadap lahan dan ketersediaan air dapat dikurangi. (SH)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7