Karhutla Kaltim Masih Mengancam, Water Bombing Terkendala dan OMC Digenjot
Portalkaltim.com, Samarinda – Penanganan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur mulai diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dan water bombing, namun pelaksanaan di lapangan masih menghadapi kendala teknis.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan, dukungan penanganan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), terutama melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah dipenuhi untuk sejumlah kebutuhan operasi.
“Walaupun saat ini ada tiga yang sudah dipenuhi dari APBN, terutama dari BNPB, yang pertama water bombing teman-teman juga sudah tahu mungkin sekitar semingguan kurang lebih sudah dilakukan,” kata Suwarso di Kantor DPRD Samarinda, Selasa (15/9/2026).
Selain water bombing, pesawat Cesna untuk OMC telah berada di Bandara APT Pranoto sejak Senin malam, sementara sekitar 60 ton garam serta Domber juga telah tiba dan kesiapan pilot disebut sudah terpenuhi.
“Mulai tadi malam pesawat Cesna untuk melakukan OMC juga sudah ada di Bandara APT Pranoto, tadi pagi sekitar 60 ton garam, lalu Domber juga sudah datang di APT Pranoto, kemudian dari sisi pilotnya siap, semuanya siap,” ujarnya.
Menurut Suwarso, pesawat OMC kini menunggu pemantauan potensi awan yang memungkinkan pembentukan hujan, dengan arahan BNPB agar peluang sekecil apa pun tetap dimanfaatkan untuk memicu turunnya hujan.
“Perintah Kepala BNPB jelas, sekecil apa pun potensinya harus tetap dilakukan operasi modifikasi cuaca, karena memang kekeringannya kita itu sudah berbeda dengan tahun 2015,” tegasnya.
Pelaksanaan OMC yang semula direncanakan beroperasi pukul 07.00 hingga 20.00 Wita kemudian mendapat permintaan dari otoritas bandara untuk memperpanjang pemantauan menjadi 24 jam, sehingga setiap potensi awan yang dapat menghasilkan hujan bisa segera ditindaklanjuti.
“Standby akan bekerja mulai tanggal 15 sampai 19 September, karena di tanggal itu menurut prediksi BMKG ada peluang terjadinya pembentukan awan yang bisa menjadi hujan,” jelasnya.
Sementara itu, water bombing dipusatkan di APT Pranoto bersama pesawat OMC dan disiapkan untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani satgas darat, tetapi pada Selasa operasi tersebut belum dapat bergerak karena kantong air mengalami kendala teknis.
“Water bombing hari ini belum bisa bergerak karena kantong airnya mengalami trouble sedikit, tapi tetap terus dilakukan, mudah-mudahan kalau ada titik api yang sulit dijangkau dengan satgas darat, water bombing akan bekerja,” tandas Suwarso.
OMC akan mencakup wilayah Kaltim dengan pemantauan potensi awan berdasarkan rute dan kemampuan pesawat, sedangkan water bombing tetap disiagakan sebagai dukungan ketika penanganan titik api melalui jalur darat mengalami keterbatasan. (SH)
![]()
Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7






