Polemik Tidak Kebagian Lapak, DPRD Perjuangkan Ratusan Pedagang SKTUB Pasar Pagi Samarinda

Suasana rapat dengar pendapat bersama DPRD Samarinda dan perwakilan pedagang pemilik SKTUB Pasar Pagi Samarinda di Ruang Rapat Paripurna DPRD Samarinda.

Portalkaltim.com, Samarinda – DPRD Kota Samarinda menunjukkan sikap tegas dengan pasang badan memperjuangkan nasib ratusan pedagang Pasar Pagi pemilik Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB) resmi, yang hingga kini terkendala administrasi karena Nomor Induk Kependudukan (NIK) tidak terdata, sehingga belum dapat menempati kios baru Pasar Pagi Samarinda.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam rapat dengar pendapat Komisi II DPRD Samarinda bersama puluhan pedagang Pasar Pagi di Ruang Rapat Paripurna Lantai 2 DPRD Samarinda, Jumat (23/1/2026), yang menargetkan seluruh kios Pasar Pagi dapat terisi paling lambat 18 Februari 2026 untuk mengejar momentum peningkatan omzet jelang Ramadan.

“Maksimal 18 Februari 2026 sudah terisi semua Pasar Pagi. Karena kita mau mengejar momen menjelang bulan puasa, karena omzet penjualan cenderung meningkat drastis,” kata Ketua Komisi II DPRD Samarinda Iswandi.

Untuk merealisasikan target tersebut, DPRD Samarinda akan segera melakukan komunikasi intensif dengan Wali Kota Samarinda Andi Harun serta instansi terkait agar persoalan administratif NIK para pemilik SKTUB sah dapat segera diselesaikan dan pedagang bisa kembali menempati kiosnya.

Di sisi lain, Koordinator Pemilik SKTUB Resmi Pasar Pagi dengan NIK Tidak Terdata, Ade Maria Ulfah, menyampaikan bahwa para pedagang kini menggantungkan harapan besar kepada DPRD Samarinda untuk memperjuangkan hak mereka yang sempat terhambat.

“Kami minta kepastian, kami minta data yang kami masukkan tadi diproses dan kami mendapatkan hak kami kembali,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diserahkan ke DPRD Samarinda, tercatat sekitar 379 pemilik SKTUB resmi yang masih menunggu kejelasan penempatan kios Pasar Pagi setelah sebelumnya direlokasi ke Segiri Grosir Samarinda (SGS).

“Kita percayakan ke DPRD saat ini. Kita ingin damai dan menjemput rezeki yang berkah. Apalagi sudah dekat Ramadan, itu momen kami untuk menjemput cuan yang lebih banyak,” ungkap Ade.

Menurutnya, relokasi ke SGS berdampak besar terhadap keberlangsungan usaha pedagang karena terjadi penurunan omzet yang sangat signifikan hingga membuat sebagian pedagang berada di ambang kebangkrutan.

“Semenjak pindah ke SGS, omzet kami merosot. Banyak teman-teman yang bisa dibilang bangkrut, tapi tetap bertahan karena tidak ada pilihan lain. Selama di SGS, penghasilan banyak teman-teman hanya cukup untuk makan hari itu saja,” curhatnya.

Para pemilik SKTUB berharap dapat segera kembali berjualan di Pasar Pagi Samarinda sebelum Ramadan agar mereka berani kembali menyetok barang dalam jumlah besar demi memulihkan kondisi ekonomi keluarga.

“Harapannya sebelum Ramadan kita sudah masuk. Karena pedagang mau beli stok barang baru, karena sebelumnya di SGS kami tidak berani menyetok barang banyak akibat pembeli yang kurang,” tandas Ade Maria Ulfah. (SH)

Loading