Bukan Ratusan, Dinkes Kaltim Tegaskan Kasus HIV di Kutim Baru Delapan Orang Terlaporkan
Portalkaltim.com, Samarinda – Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) menegaskan bahwa jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang tercatat secara resmi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga saat ini hanya berjumlah delapan orang.
Data tersebut sekaligus membantah isu yang beredar luas di media sosial mengenai jumlah pengidap HIV di wilayah tersebut yang disebut mencapai ratusan orang.
Kepala Dinkes Kaltim dr Jaya Mualimin menyampaikan bahwa angka tersebut bersumber dari sistem pelaporan resmi yang menjadi acuan pemerintah daerah. Ia menekankan bahwa informasi yang beredar tidak sesuai dengan data faktual yang dimiliki Dinkes Kaltim.
“Itu salah, di Kutim hanya delapan yang terlaporkan kemarin. Jadi saat kami membaca informasi di media sosial, saya langsung melakukan pengecekan, sedikit aja gak sampai ratusan ,” katanya di Hotel Diamond Samarinda Jalan Lambung Mangkurat Samarinda, Senin (26/1/2026).
Jaya menjelaskan bahwa secara umum tren penyebaran HIV saat ini memang lebih banyak ditemukan pada kelompok berisiko tertentu. Salah satu kelompok yang menjadi perhatian dalam upaya pencegahan dan pengendalian adalah komunitas Laki laki Suka Laki laki.
Ia juga memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025, jumlah kasus HIV positif di Kalimantan Timur tercatat mencapai 1.018 kasus. Kasus terbanyak ditemukan di Kota Samarinda, Balikpapan, dan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Untuk menekan angka penyebaran, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur terus mengintensifkan upaya deteksi dini melalui metode skrining. Kegiatan ini difokuskan pada komunitas berisiko serta lokasi yang dinilai rawan terjadinya penularan.
“Upaya kita dengan lakukan skrining untuk komunitas tertentu seperti skrining pada komunitas LSL (laki-laki suka laki-laki),” jelasnya.
Selain skrining komunitas, Dinkes Kaltim juga melakukan pemantauan terhadap kawasan lokalisasi sebagai bagian dari strategi pengendalian penularan HIV. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pencegahan dapat berjalan lebih efektif.
Jaya menambahkan bahwa tingkat keparahan HIV dapat ditekan dengan pengobatan rutin menggunakan obat Antiretroviral (ARV). Pengobatan yang dijalani secara konsisten disebut mampu menurunkan jumlah virus hingga ke tingkat yang tidak menularkan kepada orang lain.
Ia mengingatkan bahwa HIV yang tidak ditangani secara medis dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Infeksi yang dibiarkan berpotensi memicu berbagai penyakit penyerta hingga akhirnya berkembang menjadi Acquired Immunodeficiency Syndrome atau AIDS.
Terkait upaya jangka panjang, Jaya mengungkapkan bahwa saat ini para peneliti masih mengembangkan vaksin untuk pencegahan HIV. Ia berharap dalam dua tahun ke depan vaksin tersebut sudah dapat tersedia dan digunakan secara luas. (SH)
![]()







