Hasil Tidak Lagi Memuaskan, Lada Asli Baru Ampar Mulai Kehilangan Petaninya

Portalkaltim.com, Kutai Timur – Hujan yang meresap ke tanah Batu Ampar selalu membawa aroma yang akrab bagi para petani. Di antara hutan dan perbukitan, mereka menaruh harapan pada tanaman yang tumbuh dalam kesederhanaan. Batu Ampar mungkin dikenal karena nanas Himba Lestarinya, namun ada dua komoditas lama yang masih setia dirawat oleh tangan-tangan keras masyarakatnya: lada dan karet.

Camat Batu Ampar Suriansyah mengatakan bahwa sampai hari ini, kedua komoditas tersebut tetap menjadi tumpuan hidup bagi sebagian warga.

“Komoditas unggulan selain nanas adalah lada dan karet,” ujarnya.

Ia mengingat bagaimana lada pernah menjadi sumber kesejahteraan terbesar bagi banyak keluarga. Saat harga sedang tinggi beberapa tahun lalu, tanaman ini menjadi primadona dan membawa perubahan bagi kehidupan petani. Namun seiring waktu, nilai jualnya menurun dan membuat masa kejayaan itu perlahan memudar.

“Lada sempat menjadi primadona dengan harga tinggi, namun kini menurun,” katanya.

Meski begitu, Suriansyah melihat keteguhan petani yang tidak goyah oleh naik-turunnya harga pasar. Mereka tetap merawat kebun, tetap menuai lada dan menyadap karet, berharap roda ekonomi suatu saat berputar kembali ke arah yang lebih baik.

“Petani di Batu Ampar ini tangguh, mereka tidak berhenti meski harga turun,” ucapnya.

Pemerintah kecamatan juga mencoba memberi dukungan dengan mendorong inovasi pengolahan hasil, mulai dari minyak lada hingga produk olahan lateks agar nilai jual dapat meningkat dan petani memiliki lebih banyak pilihan untuk bertahan.

Lada dan karet mungkin tak lagi bersinar seperti masa lalunya, namun di kebun-kebun kecil pedalaman Batu Ampar, kedua tanaman itu tetap tumbuh sebagai simbol ketekunan. Dari tangan para petani, kita belajar bahwa harapan tidak selalu datang dari harga yang tinggi, tetapi dari kesediaan untuk terus menanam meski masa depan belum jelas. (SH/ADV).

Loading