DPPKB Kutim Tangani Pernikahan Dini di Kawasan TNK Lewat Edukasi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Portalkaltim.com, Kutai Timur – Fenomena pernikahan dini di kawasan Taman Nasional Kutai atau TNK menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.
Meski kawasan tersebut berstatus lindung, masih terdapat masyarakat yang bermukim di dalamnya, bahkan sebagian besar di antaranya telah menikah di usia belasan tahun dan sudah memiliki cucu.
Kondisi ini menjadi tantangan nyata dalam upaya peningkatan kualitas keluarga dan pencegahan stunting di daerah.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kutai Timur Achmad Junaidi menegaskan bahwa persoalan pernikahan dini tidak bisa diselesaikan secara sektoral melainkan harus dilakukan melalui inovasi dan kolaborasi lintas lembaga.
“Pernikahan dini perlu penanganan melalui inovasi dan kolaborasi,” ujar Achmad Junaidi.
Ia menjelaskan bahwa di lingkup DPPKB urusan ini ditangani oleh bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga yang berperan menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama melalui Kantor Urusan Agama di tingkat kecamatan.
“Di Dinas kami urusan ini ada di bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga kolaborasinya ke Kementerian Agama melalui KUA kecamatan,” jelasnya.
Achmad Junaidi menambahkan bahwa KUA memiliki program bimbingan perkawinan yang wajib diikuti oleh calon pengantin sebagai bentuk edukasi pra-nikah agar pasangan memahami kesiapan mental, sosial, dan ekonomi sebelum membangun keluarga.
“Di KUA ada program bimbingan perkawinan ketika seseorang mau menikah ada bimbingan pra-nikah,” tegasnya.
Selain itu DPPKB juga mendukung upaya edukasi remaja usia sekolah melalui program bimbingan remaja usia sekolah atau brus yang menyasar langsung ke sekolah-sekolah sebagai langkah preventif mencegah pernikahan dini sejak dini.
“Ada juga brus maksudnya bimbingan remaja usia sekolah untuk menyasar sekolah-sekolah,” ujarnya.
Pemerintah Kutai Timur berharap sinergi antara DPPKB, Kemenag, dan lembaga pendidikan ini mampu menciptakan generasi muda yang lebih siap secara emosional dan sosial dalam berkeluarga sehingga mampu menekan angka pernikahan dini dan dampak turunannya seperti stunting. (SH/ADV)
![]()










