Paparkan Kajian IPRO, Sucofindo: Kakao dan Karet Kutim Siap Jadi Komoditas Investasi Unggulan
Portalkaltim.com, Samarinda — PT Sucofindo menegaskan pentingnya kajian Investment Project Ready to Offer (IPRO) sebagai fondasi untuk mengembangkan dua komoditas strategis yang dimiliki oleh Kabupaten Kutai Timur (Kutim), yakni kakao dan karet.
Dalam sosialisasi yang digelar di Hotel Grand Sawit Samarinda, tim konsultan Sucofindo memaparkan berbagai aspek yang akan dikaji, mulai dari potensi produksi, pasar, hingga model investasi yang menguntungkan bagi semua pihak.

Dua perwakilan tim konsultan Sucofindo yang langsung berasal dari Jakarta, yakni Meitri Hening Chrisna Daluarti (Mei) dan Muhammad Nashar menjelaskan bahwa IPRO bukan sekadar dokumen saja, melainkan peta jalan pembangunan investasi di Kutim.
“Dokumen IPRO ini menyajikan gambaran utuh, seperti potensi yang dimiliki Kutim, tantangan yang dihadapi, peluang pasar, hingga skema bisnis yang bisa ditawarkan kepada investor. Jadi bukan hanya kajian di atas kertas, tapi bisa langsung ditindaklanjuti,” ujar Mei saat memaparkan kajian IPRO, Senin (15/9/2025).
Mei menilai bahwa Kutim memiliki potensi yang unggul untuk kakao dan karet, karena ketersediaan lahan dan petani yang dimiliki. Namun sayang, kelemahan yang dimiliki ialah belum adanya industri hilir di daerah tersebut.
Petani yang hanya menjual bahan mentah kepada pedagang pengumpul, yang selanjutnya komoditas tersebut dipasok ke Berau yang memiliki jalur ekspor maupun akses pengolahan.
“Ketika kakao atau karet dari Kutim dipasarkan lewat Berau, maka secara administrasi yang tercatat adalah komoditas Berau. Padahal, bahan bakunya jelas berasal dari Kutim. Ini artinya Kutim kehilangan peluang ekonomi yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat dan daerah sendiri,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya aturan yang jelas untuk mendukung pengembangan kakao dan karet. Ia mencontohkan kebijakan di sektor sawit, di mana ada peraturan daerah yang mengatur distribusi bahan baku agar industri lokal tetap memiliki pasokan.
“Kakao dan karet juga harus dilindungi dengan aturan seperti itu. Kalau tidak, bahan baku akan terus keluar daerah dan masyarakat Kutim tidak mendapat keuntungan,” ucapnya.
Dirinya menyampaikan bahwa IPRO tidak hanya berisi gambaran umum, tapi juga data lengkap seperti jumlah produksi kakao dan karet saat ini, perkiraan kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri, hingga rencana insentif yang bisa ditawarkan kepada investor.
“Studi kelayakan ini bukan hanya bicara soal potensi, tapi juga hitungan bisnisnya, yakni risikonya, berapa keuntungan yang bisa diperoleh, dan seberapa besar investasi yang dibutuhkan. Semuanya dijelaskan agar investor bisa langsung menilai,” jelasnya.
Dengan pendekatan berbasis data yang rinci serta dukungan Pemerintah Daerah (Pemda), tim konsultan Sucofindo optimistis terhadap Kutim yang dapat menarik investor.
“Kami tidak hanya membuat dokumen di atas kertas, tapi juga akan membantu mempromosikan ke forum bisnis dan pameran. Harapannya, Kutim bisa punya merek kakao dan karet khas daerah sendiri, tidak lagi menumpang nama daerah lain,” pungkasnya. (TS)
![]()







