Impor Kaltim Naik 13,71 Persen, Ketergantungan Bahan Baku Masih Tinggi

Ilustrasi impor di Kaltim (ist)

Portalkaltim.com, Samarinda — Kalimantan Timur (Kaltim) masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan industrinya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mengungkapkan bahwa impor barang ke wilayah ini mengalami lonjakan baik secara bulanan maupun tahunan.

Pada Mei 2025, nilai impor tercatat mencapai 416,04 juta dolar AS, meningkat 13,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 365,88 juta dolar AS.

Jika dibandingkan dengan bulan April 2025 yang hanya mencatat 381,36 juta dolar AS, tren kenaikan tetap terlihat meski konsumsi domestik cenderung stagnan.

“Lonjakan ini didominasi oleh kelompok bahan baku atau penolong, yang menyumbang 93,68 persen dari total nilai impor,” terang Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana saat konferensi pers di Samarinda, Selasa (1/7/2025).

Sementara itu, impor barang modal berkontribusi sebesar 6,20 persen dan konsumsi hanya 0,12 persen. Namun, jika ditelusuri lebih jauh secara bulanan, justru terjadi penurunan tajam pada impor barang modal hingga 44,07 persen, sementara bahan baku meningkat 16,42 persen. Barang konsumsi tercatat naik 6,25 persen dalam sebulan.

Secara tahunan, komposisi kebutuhan konsumsi mengalami kemerosotan paling dalam, turun hingga 84,11 persen. Barang modal juga turun 44,07 persen.

Sebaliknya, kebutuhan bahan baku mengalami kenaikan yang signifikan sebesar 20,98 persen.

Dari sisi negara asal, Tiongkok tetap menjadi pemasok utama dengan nilai impor sebesar 26,96 juta dolar AS, disusul Jerman (6,18 juta dolar AS) dan Jepang (5,52 juta dolar AS).

Sementara berdasarkan kawasan, ASEAN mengungguli Uni Eropa dengan masing-masing kontribusi 17,50 juta dolar AS dan 17,27 juta dolar AS.

Situasi ini menandakan bahwa industri di Kaltim masih sangat bergantung pada pasokan luar, terutama untuk operasional produksi.

Ketergantungan ini membuka peluang sekaligus tantangan, terutama dalam membangun kemandirian bahan baku melalui hilirisasi industri dan peningkatan produksi dalam negeri. (SH)

Loading