Kaltim Diharap Jadi Ibu Kota Kebudayaan Lewat Ekosistem Budaya dan Dana Abadi
Portalkaltim.com, Samarinda – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (RI) Fadli Zon menilai Kalimantan Timur (Kaltim) memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kebudayaan nasional.
Dalam kuliah umum bertajuk “Menggali Kearifan Lokal: Perbandingan Hukum Adat dan Kearifan Lokal dalam Masyarakat Modern” di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), ia mendorong agar potensi tersebut dihidupkan lewat dukungan ekosistem dan partisipasi masyarakat adat.

“Masyarakat adat dan kearifan lokal di Kalimantan Timur mencerminkan harmoni dengan alam dan sistem sosial yang telah hidup berabad-abad,” ujar Fadli.
Ia menyoroti nilai budaya yang tumbuh di bekas wilayah kerajaan seperti Pasar dan Kulai, serta komunitas Dayak dan Ranau Mulu.
Menurutnya, berbagai ritual dan upacara adat harus ditulis dan dihidupkan secara sistematis sebagai bagian dari pembangunan ekosistem budaya yang kuat.
Dalam menghadapi arus globalisasi dan gelombang soft power global seperti Hollywood, Korean Wave, dan Bollywood, Fadli menilai Indonesia harus memiliki gelombang budaya sendiri yang bisa mendunia.
“Kita jangan hanya jadi pasar budaya negara lain,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Kebudayaan saat ini memiliki skema pendanaan melalui Dana Indonesiana yang bisa dimanfaatkan komunitas, sanggar, maupun individu.
“Tahun ini tersedia dana sekitar Rp465 miliar, dari dana abadi kebudayaan sebesar Rp5 triliun,” ujarnya.
Dana tersebut mencakup 11 kategori, termasuk penciptaan karya kreatif, sinema Indonesia, pendayagunaan ruang publik, dokumentasi maestro, hingga distribusi karya ke level internasional.
Ia berharap lebih banyak pelaku budaya dari Kaltim bisa mengakses dana ini untuk mengembangkan potensi lokal mereka.
Fadli juga menyebut pentingnya peran museum sebagai pusat literasi budaya, bukan sekadar penyimpanan artefak.
Ia menambahkan bahwa kesultanan dan kerajaan lama masih memegang nilai penting dalam sejarah dan bisa menjadi institusi kultural untuk mendukung kemajuan kebudayaan nasional.
“Indonesia pantas menjadi ibu kota budaya dunia. Tapi untuk itu, kita harus menciptakan masyarakat yang mencintai budayanya sendiri,” tutupnya. (SH)
![]()







