Beda Pandangan, PPMI Absen Agenda May Day Ditrannaker Kutim
Portalkaltim.com, Kutai Timur – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, yang jatuh pada 1 Mei 2025 menjadi agenda rutin bagi tiap buruh untuk menyampaikan aspirasi mereka terhadap pemerintah.
Buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, siap menghiasi setiap sudut jalan untuk menyuarakan uneg-uneg dalam benak mereka setelah setahun berlalu usai May Day 2024.
Tak jarang, masyarakat akan menemukan suara-suara teriakan membara para buruh, konvoi, sampai penutupan beberapa ruas jalan demi tersalurkannya tiap-tiap poin keluhan mereka.
Sama, namun terlihat beda. May Day di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), sedikit lebih meriah. Tak banyak aksi turun ke jalan yang terlihat. Akan tetapi, ada kebersamaan yang terjalin antarserikat buruh di Halaman Kantor Bupati Kutim pagi hari itu.
Acara dimeriahkan dengan berbagai aktivitas, seperti zumba dan bagi-bagi hadiah menarik mulai dari mesin cuci sampai umroh. Turut hadir menemani kehangatan para aktifis buruh, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi.
Tetapi, kebersamaan tersebut terdapat tanda tanya, mengapa ada satu serikat buruh yang biasanya hadir, kini absen? Ternyata, ada yang menjadi sorotan di sisi lain Sangatta Utara, tepatnya di persimpangan antara Jalan Yos Sudarso III di waktu yang sama.
May Day, oleh serikat buruh yang menamakan diri mereka Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) itu, meneriakkan aspirasinya langsung di jalan.
Mengawali rute konvoi menggunakan kendaraan pribadi dari Kantor DPC PPMI Kutim di Jalan Karya Etam, kemudian lanjut ke Jalan Soekarno Hatta dan sejenak berorasi di tengah masyarakat pada simpang tiga Yos Sudarso III.

Ketua DPC PPMI Kutim Tabrani Yusuf, S.Tp, selaku orator dalam kesempatan itu menyuarakan tentang tiga hal penting, yaitu mencabut Undang-Undang (UU) Cipta Kerja atau Omnibus Law, menertibkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Terbaru, dan merealisasikan Peraturan Daerah (Perda) Ketenagakerjaan Nomor 1 Tahun 2022 Kutai Timur secara transparan agar putra-putri Kutai Timur diprioritaskan untuk dipekerjakan.
Dibalik aksi menyala itu, PPMI mendapat sorotan warga dan bahkan pihak organisasi lain. Absennya mereka pada agenda rutin May Day di Kantor Bupati Kutim kali ini merupakan buntut ketidakpuasannya untuk menyuarakan apa yang menjadi kekecewaan mereka kepada setiap buruh di Kutim, bahkan di Indonesia.
“Kami minta izin ya, memang kita PPMI tidak bertemu dengan SB (serikat buruh)-SB yang lain,” ujar Tabrani mengamini absennya PPMI Kutim di acara May Day, yang diinisi Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Ditrannaker) Kutim.
Selain itu, dirinya menekankan tanpa mengurangi rasa hormatnya pada pendapat serikat buruh lainnya atas acara tersebut yang kerap dihiasi hadiah-hadiah, ia memandang May Day lebih dari hal ini.
Turun ke jalan, mengeluarkan pendapat di tengah-tengah buruh lainnya yang menjadi masyarakat biasa tanpa masuk ke serikat buruh merupakan salah satu kejadian penting di Hari Buruh.
“Kali ini pandangan kita agak berbeda itu tidak sepatutnya, maaf, kita dalam keadaan bersenang-senang kita harus turun ke jalan,” bebernya lebih dalam.
Kendati demikian, ia sepenuhnya menghormati pandangan serikat buruh lainnya dan pemerintah daerah yang memberikan ruang seluas-luasnya kepada rekan sejawatnya, walau dengan versi lebih hangat.
Cuaca yang saat itu tak menentu, tak menyurutkan semangat mereka berjuang di jalan. Datang dalam keadaan kering, pulang dalam keadaan basah, sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka telah menuntaskan salah satu kewajibannya sebagai pemerhati buruh.
“Bukan berarti kita anti pada kegiatan dan teman-teman yang lain, tetapi kita berkonsentrasi pada menyampaikan aspirasi,” pungkas Tabrani. (SH)
![]()










