Arsitektur Bukan Sekadar Indah Dilihat, Ivan Soroti Bangunan yang Gagal Dirasakan
Portalkaltim.com, Samarinda – Banyak bangunan modern berdiri megah dan memanjakan mata, tetapi justru gagal memberi kenyamanan bagi penghuninya karena terlalu fokus pada visual dan melupakan fungsi dasar indera manusia.
Isu inilah yang disoroti Arsitek Videshiiya Studio Stefanus Theodorus Suhendra atau yang akrab disapa Ivan dalam Architecture Talk Build Next Samarinda, Rabu (13/5/2026) di Hotel Harris.
Dalam materinya bertajuk “Hooh, Jangan-Jangan Bukan Arsitektur”, Ivan menegaskan bahwa arsitektur seharusnya tidak hanya dinilai dari keindahan bentuk, tetapi dari bagaimana sebuah ruang mampu berinteraksi dengan seluruh indera manusia seperti pendengaran, penciuman, peraba, hingga rasa emosional yang tercipta di dalamnya.
Ia mengutip pemikiran arsitek Finlandia Juhani Pallasmaa yang menyebut adanya bias indera di era modern, ketika dominasi mata membuat manusia terjebak dalam keterpisahan, isolasi, dan eksterioritas.
Menurutnya, terlalu banyak bangunan hari ini hanya dibangun untuk terlihat bagus di foto, tetapi tidak nyaman untuk dihuni.
“Kadang bangunan dibangun hanya sibuk memperhatikan keindahan di mata, tapi gagal dari fungsi telinga karena terlalu bising,” ujarnya.
Ivan menjelaskan, telinga merupakan indera pertama yang bekerja bahkan sejak manusia purba, bersifat omnidirectional atau mampu menangkap suara dari segala arah.
Karena itu, kualitas suara dalam bangunan menjadi bagian penting yang sering diabaikan, seperti ruang yang indah tetapi memantulkan kebisingan berlebihan dan justru membuat penghuninya tidak betah.
Selain pendengaran, ia menyoroti pentingnya indera penciuman dalam membangun pengalaman ruang.
Menurutnya, aroma memiliki hubungan kuat dengan memori sehingga desain rumah seharusnya mampu menghadirkan pengalaman emosional, bukan sekadar tampilan visual.
Ia mencontohkan desain dapur yang menyatu dengan ruang keluarga agar aroma masakan dapat menjadi pemantik interaksi antaranggota keluarga.
Begitu pula kamar tidur yang memiliki bukaan ke taman atau ruang hijau, sehingga penghuni dapat menikmati aroma hujan, wangi tanaman, dan suasana alami yang menenangkan.
“Kita ingin memasukkan ekosistem ke dalam apa yang kita rancang,” katanya.
Ivan juga menyinggung pentingnya indera peraba dan pengecap dalam memahami ruang.
Material bangunan seperti kayu, batu, tanah, hingga tekstur permukaan memiliki kemampuan menghadirkan rasa yang berbeda ketika disentuh.
Menurutnya, manusia secara alami ingin menyentuh sesuatu untuk memahami dan merasakan keberadaannya secara nyata.
Bahkan hal kecil seperti gagang pintu pun memiliki makna penting dalam desain. Ia menyebut gagang pintu sebagai “salaman pertama dengan rumah”, karena menjadi titik sentuh pertama yang memberi kesan awal terhadap sebuah ruang. Dari detail sederhana itulah pengalaman arsitektur sebenarnya dimulai.
Ia juga menekankan bahwa tekstur tidak selalu hadir dari bentuk fisik, tetapi bisa muncul dari permainan cahaya matahari, bayangan, dan susunan material yang beragam.
Keragaman material alami seperti tanah dan elemen organik lain dapat menciptakan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh desain yang hanya mengejar kesan modern semata.
Mengutip pemikiran Jan Gehl, Ivan menegaskan bahwa arsitektur adalah interaksi antara bentuk dan kehidupan. Bangunan bukan benda mati yang hanya dipandang, tetapi ruang hidup yang harus mampu menyatu dengan aktivitas manusia sehari-hari.
Melalui diskusi ini, ia mengingatkan bahwa arsitektur yang baik bukan yang paling fotogenik, melainkan yang paling mampu membuat manusia merasa hadir, nyaman, dan terhubung dengan ruang yang mereka tinggali. (SH)
![]()
Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7







