Kratom Kaltim dan Jalan Panjang Hilirisasi dari Tanaman Lokal Menuju Komoditas Strategis
Portalkaltim.com, Samarinda — Di tengah upaya daerah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor tambang dan migas, tanaman Kedemba atau Kratom mulai dipandang sebagai peluang strategis yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.
Tanaman yang dikenal secara ilmiah sebagai Mitragyna speciosa ini selama ini tumbuh akrab di bentang hutan Kalimantan, namun nilainya belum sepenuhnya dinikmati daerah sebagai kekuatan ekonomi yang terstruktur.
Isu inilah yang mengemuka dalam audiensi antara Wakil Gubernur Kalimantan Timur dengan PT Borneo Riseta Naturafarm bersama PT DJB Botanicals Indonesia di Ruang Rapat Wakil Gubernur Kaltim, Senin (11/5/2026).
Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas komoditas ekspor, tetapi membuka refleksi lebih luas tentang bagaimana sumber daya lokal sering kali berhenti sebagai bahan mentah tanpa nilai tambah yang signifikan bagi daerah.
Dr Islamudin Ahmad dalam paparannya menegaskan bahwa Kratom bukan hanya tanaman liar yang tumbuh alami, melainkan komoditas dengan potensi ekonomi besar jika dikelola melalui jalur hilirisasi yang tepat.
Dengan tema “Kratom: Emas Hijau dari Bumi Kalimantan”, ia menjelaskan bahwa daun segar Kratom dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp80 juta hingga Rp120 juta per hektar per tahun.
Namun angka tersebut melonjak sangat jauh ketika produk diolah menjadi ekstrak berkadar tinggi yang nilainya dapat mencapai Rp2,3 miliar hingga Rp5,7 miliar per hektar per tahun.
Di titik inilah persoalan utama muncul, yakni bagaimana daerah tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu masuk ke rantai industri yang menghasilkan nilai ekonomi paling besar.
“Hilirisasi adalah kunci. Dengan mengolah daun Kratom mentah menjadi produk ekstrak terstandar, nilai ekonomi komoditas ini dapat meningkat hingga lebih dari seribu kali lipat,” ujarnya.
Paparan dari PT DJB Botanicals Indonesia memperkuat gambaran tersebut dengan menunjukkan bahwa Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan Kratom dunia.
Permintaan terbesar datang dari Amerika Serikat dan Eropa untuk industri herbal dan kebugaran, sementara India dan Thailand menjadi pasar penting untuk industri ekstraksi bahan alam.
Fakta ini menunjukkan bahwa pasar sudah terbuka, namun pertanyaannya selalu sama, seberapa besar nilai itu kembali ke daerah asal produksi.
PT DJB Botanicals Indonesia yang berdiri sejak 2019 disebut telah menjadi pionir eksportir produsen Kratom di Kalimantan Timur dengan fasilitas produksi di kawasan industri L3 Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara.
Sementara, PT Borneo Riseta Naturafarm berperan pada sisi riset dengan fokus pada isolasi alkaloid dan standardisasi mutu yang menjadi fondasi penting dalam membangun industri berbasis sains.
Gagasan East Borneo Botanicals Corridor yang disampaikan juga memperlihatkan bahwa isu ini tidak hanya bicara Kratom, tetapi tentang masa depan ekonomi botani Kalimantan secara lebih luas.
Diversifikasi menuju komoditas lain seperti Tahongai, Nuciferine, Arecoline, hingga Bawang Dayak menjadi sinyal bahwa Kalimantan memiliki lebih banyak potensi yang selama ini belum ditata secara serius.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyambut positif gagasan tersebut dan menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur siap terlibat lebih aktif dalam proses hilirisasi ini.
Ia memastikan akan ada tindak lanjut bersama Dinas Kehutanan, tim ahli gubernur, dan berbagai lembaga terkait untuk membahas aspek regulasi serta strategi pengembangan secara menyeluruh.
“Nanti kita turun langsung ke lokasi fasilitas produksi dan laboratorium di L3 Tenggarong Seberang. Saya ingin melihat sendiri sejauh mana kesiapan industri ini,” tegasnya.
Hal itu menjadi penting karena hilirisasi tidak cukup hanya berhenti di ruang rapat atau presentasi potensi, tetapi membutuhkan keberanian politik, kepastian regulasi, dan dukungan nyata dari pemerintah daerah.
Kratom pada akhirnya bukan hanya soal ekspor, tetapi tentang pilihan arah pembangunan apakah Kalimantan Timur ingin terus menjual bahan mentah atau mulai membangun masa depan ekonominya dari nilai tambah yang diciptakan sendiri. (SH)
![]()
Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7







