Stunting di Kutai Timur Capai 1.000 Anak, Pemda Fokus Intervensi Usia di Bawah Dua Tahun
Portalkaltim.com, Kutai Timur — Masalah stunting masih tantangan yang besar di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Pasalnya Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Seno Aji, menyampaikan bahwa Kutim masih menjadi catatan untuk kasus stunting
Hingga saat ini, tercatat sebanyak 1.543 anak usia 0 hingga 59 bulan mengalami stunting. Angka tersebut menjadi dasar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim untuk memperkuat strategi intervensi, khususnya pada kelompok usia paling krusial, yakni anak di bawah dua tahun.
Admin Staff Kesehatan Bidang Kesehatan Masyarakat Program Gizi Dinkes Kutim, Verrin Septia Adiati, menjelaskan bahwa sasaran intervensi paling efektif berada pada rentang usia 0–23 bulan atau baduta.
Menurut Verrin, pada fase ini pertumbuhan anak masih sangat mungkin diperbaiki melalui intervensi gizi yang tepat.
“Untuk stunting di Kutim ada sekitar 1.543 anak usia 0 sampai 59 bulan. Tapi sasaran paling efektif untuk intervensi itu memang anak di bawah dua tahun. Karena itu Dinas Kesehatan bersama DP2KB lebih banyak memfokuskan program pada kelompok usia tersebut,” ujar Verrin saat diwawancarai di DPPKB Kutim, seusai melakukan podcast pada Jumat (15/1/2026).
Ia menerangkan, data stunting tersebut dihimpun dari berbagai sumber layanan kesehatan. Mulai dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), klinik, rumah sakit, hingga satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan kelompok bermain.
“Semua data hasil penimbangan dan pengukuran dimasukkan ke dalam sistem SIGIZI (Sistem Informasi Gizi) Terpadu. Data diinput oleh petugas Puskesmas, kemudian dianalisis sehingga terbaca status gizi anak-anak di Kutim,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa seluruh kebijakan daerah dalam penanganan stunting mengacu pada kebijakan nasional, termasuk rencana tindak lanjut yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
“Kami mengikuti kebijakan nasional dan rencana tindak lanjut yang sudah ditetapkan. Penanganan stunting tidak hanya berfokus pada bayinya saja, tetapi dimulai jauh sebelum bayi itu lahir,” kata Yuwana di tempat yang sama.
Menurut Yuwana, upaya pencegahan stunting dimulai dari remaja putri. Persiapan gizi, asupan zat besi, serta kondisi kesehatan remaja perempuan menjadi fondasi penting sebelum memasuki masa kehamilan.
“Remaja putri harus dipersiapkan gizinya sejak awal. Supaya ketika dia hamil, kondisi tubuhnya siap dan bayi yang dilahirkan sehat,” jelasnya.
Selain itu, perhatian besar juga diberikan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak bayi masih dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Pada fase ini, status gizi harus dijaga secara optimal agar anak tidak mengalami stunting maupun gizi buruk.
Tak hanya faktor gizi, dirinya menambahkan bahwa lingkungan dan sanitasi juga memegang peranan penting. Penyakit infeksi yang dipicu sanitasi buruk dapat memperparah kondisi stunting pada anak.
“Stunting juga berkaitan dengan penyakit infeksi. Jika gizinya kurang lalu ditambah infeksi, kondisi anak akan semakin berat. Karena itu pengendalian penyakit dan perbaikan sanitasi juga menjadi perhatian,” pungkasnya. (TS)
![]()










