Ia menjelaskan bahwa pernikahan usia anak sering kali berujung pada komplikasi kehamilan, mulai dari anemia, kelahiran prematur, bayi dengan berat lahir rendah, hingga risiko persalinan yang dapat membahayakan ibu dan bayi.
“Kehamilan terlalu muda dapat membahayakan ibu maupun bayinya. Karena itu, edukasi harus diberikan sejak dini, terutama oleh keluarga dan kader,” ujarnya.
Selain menekankan pencegahan perkawinan anak, Puskesmas Telaga Sari juga memperkuat edukasi KB melalui kelas ibu hamil serta sosialisasi bagi calon pengantin (catin). Materi yang disampaikan mencakup kesiapan fisik, mental, ekonomi, serta pengetahuan mengenai jarak kehamilan ideal. Winny menyebut bahwa kelas ibu hamil menjadi sarana penting untuk mengenalkan kembali manfaat KB setelah melahirkan.
“Kami ingin ibu memahami bahwa KB bukan hanya mengatur jumlah anak, tetapi juga melindungi kesehatan mereka,” jelasnya.
Untuk calon pengantin, puskesmas memberikan pendampingan terkait perencanaan keluarga yang sehat, risiko kehamilan dini, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Edukasi ini diharapkan membantu pasangan membangun keluarga yang lebih matang dan siap.
Melalui pendekatan ganda pencegahan perkawinan anak serta pembekalan bagi ibu hamil dan calon pengantin Puskesmas Telaga Sari berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya merencanakan kehamilan secara bijak semakin meningkat. ADV










