97 Tahun Sumpah Pemuda, GMNI Balikpapan: Pemuda Harus Kritis di Tengah Krisis dan Transisi Energi Nasional
Portalkaltim.com, Balikpapan – 97 tahun lalu, Sumpah Pemuda dikumandangkan. Memperingati momen bersejarah tersebut, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Balikpapan mengingatkan pentingnya peran generasi muda untuk menjaga arah perjuangan bangsa di tengah krisis energi dan transisi menuju energi terbarukan yang sedang berlangsung di Indonesia.
Melalui siaran pers tertulis GMNI Balikpapan, Selasa (28/10/2025), organisasi ini menegaskan bahwa Sumpah Pemuda lahir dari semangat kesetaraan dan persatuan lintas suku, agama, dan golongan — semangat yang kini harus diterjemahkan dalam perjuangan baru: memastikan keadilan sosial dalam kebijakan energi nasional.
Triondy Kawutu, atau yang akrab disapa Bung Tion, selaku kader GMNI Balikpapan, menyampaikan bahwa tantangan pemuda hari ini bukan hanya soal identitas, melainkan bagaimana menjaga idealisme di tengah arus besar transisi energi yang kerap tidak berpihak pada rakyat kecil.
“Pemuda harus hadir sebagai suara kritis dalam transisi energi. Jangan sampai agenda menuju energi bersih hanya menjadi proyek elite yang meninggalkan rakyat di belakang. Transisi energi harus berpihak pada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat,” tegas Bung Tion.
Ia menambahkan, krisis energi dan perubahan iklim global telah memaksa dunia beralih dari energi fosil menuju energi terbarukan. Namun di Indonesia, ketergantungan terhadap minyak, gas, dan batu bara masih tinggi, sementara daerah penghasil energi justru masih banyak yang hidup dalam kemiskinan.
“Ini ironi besar. Daerah penghasil migas dan batu bara seharusnya makmur, tapi faktanya banyak yang masih hidup dalam kesulitan. Artinya, pengelolaan energi kita belum benar-benar dijalankan untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945,” jelasnya.
Menurut Bung Tion, transisi energi harus menjadi momentum untuk memperbaiki ketimpangan struktural dalam pengelolaan sumber daya alam. Pemuda harus berani memastikan bahwa sumber daya energi dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan segelintir korporasi atau kepentingan politik jangka pendek.
“Pemuda tidak boleh diam. Kita boleh bicara soal energi hijau, tapi jangan lupa bahwa keadilan energi juga berarti pemerataan akses listrik, harga energi yang terjangkau, dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan,” tambahnya.
GMNI Balikpapan menilai bahwa pembangunan dan kebijakan energi harus menempatkan rakyat sebagai pusat. Di tengah derasnya investasi energi baru dan terbarukan, pemuda harus memastikan agar transisi ini tidak menciptakan bentuk ketimpangan baru, seperti halnya eksploitasi di masa energi fosil.
“Transisi energi tidak boleh hanya mengganti sumber daya, tapi juga harus mengganti cara berpikir kita tentang keadilan. Energi harus menjadi hak rakyat, bukan komoditas yang dikuasai segelintir orang,” tegas Bung Tion.
Menutup pernyataannya, Bung Tion menyerukan agar momentum 97 Tahun Sumpah Pemuda dijadikan refleksi untuk memperkuat kesadaran ekologis, solidaritas sosial, dan tanggung jawab generasi muda dalam menjaga bumi dan masa depan bangsa.
“Bangsa ini berdiri di atas semangat pemuda yang berani bersatu dan berpikir merdeka. Kini, kemerdekaan itu harus diterjemahkan dalam perjuangan melawan krisis iklim, menegakkan keadilan energi, dan memastikan bahwa kekayaan alam benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” tutup Bung Tion.(mh)
![]()










