Nilai Investasi Capai Rp 3 Triliun, Minyak Goreng Jadi Harapan Baru Kutim

Suasana foto bersama pada agenda IPRO tersebut

Portalkaltim.com, Samarinda – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kutim tengah menyiapkan proyek investasi pabrik minyak goreng skala besar kepada calon investor di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) Kutim.
Bukan tanpa alasan, Kutim dikenal dengan Crude Palm Oil (CPO) yang dapat memproduksi hingga 4,5 juta ton per tahun 2024 oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat.

Jumlah ini menjadikan Kutim sebagai penyumbang utama sawit di Kalimantan, bahkan termasuk terbesar di Indonesia. Saat ini, tercatat ada 31 pabrik CPO aktif yang bisa menjadi pemasok bahan baku industri hilir Ini.

“Dengan bahan baku yang tersedia melimpah dan dekat lokasi KEK MBTK, biaya produksi bisa ditekan sekaligus memperkuat rantai pasok industri sawit di daerah,” ucap tim konsultan Sucofindo Sampor ali di Hotel Grand Sawit Samarinda pada agenda Investment Project Ready to Offer (IPRO), Selasa (16/9/2025).

Tim konsultan Sucofindo Sampor Ali (kanan) dan Meitri Hening Chrisna Daluarti (Mei) (kiri)
Tim konsultan Sucofindo Sampor Ali (kanan) dan Meitri Hening Chrisna Daluarti (Mei) (kiri)

Pembangunan pabrik minyak goreng di Kutim diperkirakan dapat menelan investasi sekitar Rp3 triliun, dengan kebutuhan modal kerja 3 bulan mencapai Rp2,1 triliun. Pabrik yang berdiri di lahan seluas 8 hektare ini ditargetkan mampu memproduksi hingga 900 ribu ton minyak goreng per tahun.

Dari sisi tenaga kerja, proyek ini diprediksi menyerap 200 pekerja langsung, namun efek domino dari rantai usaha hulu hingga hilir bisa membuka peluang kerja bagi 5.000–6.000 orang. Mulai dari sektor transportasi, distribusi, usaha mikro kecil menengah (UMKM), hingga usaha kemasan dipastikan ikut terdongkrak.

“Kalau terealisasi, ini akan menjadi game changer. Ekonomi masyarakat Kutim tidak hanya bertumpu pada komoditas mentah, tapi sudah masuk industri hilir dengan nilai tambah besar,” jelasnya.

Dari sisi pasar minyak goreng, baik nasional maupun global juga menjanjikan. Konsumsi minyak goreng di Indonesia per orang dapat mencapai 10-13 liter per tahun. Sementara kebutuhan minyak goreng di Kaltim saja sudah mencapai 455 ribu ton per tahun.

Secara global, permintaan minyak goreng juga naik pesat. Nilainya pada 2023 tercatat sebesar 204,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan diproyeksikan melesat menjadi 369 miliar dolar AS pada 2032. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa investasi di sektor hilir sawit Kutim punya peluang pasar yang luas, baik untuk domestik maupun ekspor.

Meski begitu, masih terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Seperti infrastruktur KEK MBTK masih perlu diperkuat, terutama akses jalan, logistik, dan optimalisasi pelabuhan. Selain itu, harga CPO yang tidak stabil di pasar global dapat memengaruhi stabilitas usaha.

Isu lingkungan dan sosial juga perlu diperhatikan. Pembangunan industri sawit kerap memunculkan kritik soal deforestasi, pencemaran, hingga konflik lahan dengan masyarakat lokal. Oleh sebab itu, perencanaan pabrik di Kutim dituntut menghadirkan program pemberdayaan masyarakat dan manajemen lingkungan yang berkelanjutan.

Apabila rencana ini terealisasi, Kutim berpeluang menjadi sentra industri hilir sawit di Kalimantan Timur (Kaltim), bahkan kawasan timur di Indonesia. Tidak hanya sekadar penghasil CPO, tapi juga pemain utama dalam pasar minyak goreng nasional.

Selain itu, keberadaan industri hilir membuka pintu untuk pengembangan produk turunan lain, mulai dari oleochemical hingga oleofood ini, yang sangat strategis dalam mendukung transisi energi nasional. (TS)

Loading