Didik Sesuai Cetak Biru! Golda Institute Buka Jalan Baru Pahami Anak

Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba

Portalkaltim.com, Kutai Timur — Anak yang sulit fokus, kesulitan dalam mengeja kata (disleksia), hingga kerap menjadi korban perundungan di sekolah merupakan permasalahan yang kerap dihadapi oleh para orang tua dan tenaga pengajar.

Oleh karena itu, Akademi Golda Indonesia (AGI) atau yang juga dikenal dengan nama Golda Institute ini hadir dalam memberikan sudut pandang baru terhadap dunia pendidikan dan pengasuhan, terkhususnya pada anak-anak dan remaja.

Lembaga yang berlokasi di Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ini menilai bahwa golongan darah (golda) bukan hanya sebagai penentu kecocokan dalam mendonor darah, melainkan juga menyimpan informasi tentang kecenderungan karakter, cara belajar, hingga bakat alami seorang anak.

Menurut Golda Institute, pendekatan ini nantinya dapat membantu para orang tua maupun guru dalam memahami anak sejak dini agar tidak salah dalam mendidik maupun memberi stimulus perkembangan.

Direktur eksekutif Golda Institute, Eva Dipanti Tumba menyampaikan bahwa konsep ini terinspirasi dari penelitian di Jepang yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Di Negeri Sakura inilah teori kepribadian berbasis golongan darah sudah dikenal sejak awal 1900-an dan bahkan sempat dipakai dalam proses rekrutmen perusahaan maupun penempatan tim kerja.

“Golongan darah tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga memengaruhi pola perilaku dan kecenderungan cara berpikir seseorang,” jelas Eva kepada Portalkaltim.com.

Oleh sebab itu, Eva mencoba pendekatan ini, khususnya dalam dunia pendidikan anak-anak. Ia menilai bahwa cara ini akan membantu para orang tua memahami keunikan putra-putrinya sejak masih dalam kandungan, sehingga anak bisa dibesarkan sesuai dengan “cetak biru” alaminya.

Ia mengungkapkan bahwa potensi yang dimiliki oleh anak sungguh luar biasa. Namun, potensi itu sering terhambat karena pola pengasuhan dan metode belajar yang tidak sesuai dengan karakter bawaan mereka.

“Banyak anak dicap ‘bodoh’, ‘nakal’, atau sulit diatur. Padahal bisa jadi mereka belum mendapatkan metode pembelajaran atau pola asuh yang cocok,” tegasnya.

Eva menekankan bahwa setiap golda memiliki karakteristik yang berbeda. Misalnya, anak Golda B cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi seperti penggembala yang bebas bergerak, dan menyukai variasi dalam belajar. Jika dipaksa mengikuti metode belajar yang monoton, mereka mudah bosan dan dianggap tidak fokus.

Salah satu orang tua yang datang berkonsultasi kepada Golda Institute menceritakan pengalaman serupa. Anak mereka yang bergolongan darah B dianggap lamban di sekolah. Ia sering diejek teman, bahkan guru sempat menganggapnya tidak mampu mengikuti pelajaran.

Akan tetapi, setelah diterapkan metode belajar sesuai karakter golda yang ia milik, yakni dengan memberikan stimulasi lingkungan yang menantang dan penuh variasi, anak tersebut justru menunjukkan perkembangan yang pesat, bahkan melampaui saudara-saudaranya.

“Setiap anak tentunya memiliki keunikan tersendiri. Dengan memahami golda, kita tidak lagi membandingkan, tapi menemukan jalannya masing-masing,” tuturnya.

Tidak hanya pada konsultasi pribadi, Golda Institute juga aktif bekerja sama dengan sekolah. Beberapa sekolah swasta di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) misalnya, pernah mencoba menerapkan konsep ini.

Sebelum tahun ajaran baru dimulai, para siswa diminta melakukan pemeriksaan golda mereka. Hasilnya pun digunakan oleh guru untuk menyusun pembagian kelas yang lebih seimbang, agar anak-anak dengan karakter berbeda bisa saling melengkapi, bukan saling bertabrakan.

Dengan cara ini, guru merasa lebih mudah menangani anak-anak. Bahkan anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme, hiperaktif, atau keterlambatan bicara, bisa ditangani lebih tepat karena guru sudah memahami karakter bawaan mereka sejak awal.

Golda Institute kini rutin memberikan seminar, kelas parenting, hingga pendampingan personal bagi orang tua dan guru. Eva menegaskan, pendekatan golda bukan untuk menggantikan metode pendidikan formal, melainkan menjadi jembatan agar anak-anak tidak terjebak dalam stigma negatif.

Bagi banyak keluarga, kehadiran AGI memberi harapan baru, seperti anak yang semula dianggap gagal, ternyata punya bakat khusus yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan hidupnya.

Dirinya percaya tugas utama orang tua adalah menerima keunikan anak. Bukan membandingkan, apalagi memaksa mereka mengikuti standar yang sama.

“Misi kami sederhana, tapi penting, yaitu membantu orang tua melihat anak mereka bukan dari kacamata nilai rapor, melainkan dari potensi alaminya,” tegas Eva.

Dengan cara pandang baru ini, Golda Institute ingin membangun kesadaran bahwa setiap anak adalah juara di bidangnya masing-masing. Peran orang tua dan guru adalah menemukan, bukan membentuk sesuai kehendak orang dewasa. (TS)

Loading