Solusi Pasca Tambang, Kutim Genjot Pertanian dan Agrowisata Sebagai Tulang Punggung Ekonomi

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim Dyah Ratnaningrum

Portalkaltim.com, Kutai Timur — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus mendorong pertanian sebagai sektor yang akan menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan.

Hal tersebut merupakan upaya atas ketergantungan Kutim terhadap sumber daya alam (SDA) dari sektor pertambangan yang tentunya suatu saat akan habis.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim Dyah Ratnaningrum mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan visi langsung dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.

“Bupati tentunya tidak ingin Kutim menjadi kota yang bisa jadi ditinggalkan karena tidak mempunyai keunggulan lagi selain batu bara dan sawit. Oleh Karena itu, pertanian harus kita dorong bersama, termasuk memanfaatkan lahan-lahan bekas tambang,” ujar Dyah saat diwawancarai di depan Auditorium Polres Kutim, Senin (4/7/2025).

Salah satu program yang disorot oleh Dyah ialah hilirisasi komoditas nanas, khususnya dari Kampung Nanas di Hutan Lindung Hima Lestari yang kini telah tersertifikasi sebagai varietas lokal “Nanas Hima Kutim”.

Daun nanas yang sebelumnya dibuang karena dianggap tidak memiliki suatu nilai secara ekonomi, kini diolah menjadi serat bernilai dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi, bahkan bisa mencapai harga Rp120 ribu per kilogram.

Sementara buahnya sendiri dapat dikembangkan menjadi produk olahan seperti selai, pure (minuman herbal), hingga menjadi produk nanas kaleng.

Selain itu, Pemkab Kutim melalui DTPHP juga membina pengembangan para petani padi dan petani holtikultura. Salah satu produksi padi misalnya, kini produksi padi yang dihasilkan sudah mencapai rata-rata di atas 5 ton per hektar berkat perbaikan benih dan dukungan alat mesin pertanian modern.

“Kita sudah melakukan modernisasi, dari traktor roda empat, kendaraan rice transplanter hingga menggunakan drone pertanian. Petani dapat menghemat tenaga dan waktu, serta tidak takut akan kotoran tanah yang basah,” jelasnya.

Ia juga menyebut tengah mengupayakan pencetakan sawah baru seluas 1.150 hektar pada tahun 2026 nanti. Perluasan dilakukan di daerah yang sudah memiliki jaringan irigasi induk (primer), seperti di Kecamatan Kaubun, Desa Miau Baru di Kecamatan Kongbeng, dan Tanah Abang di Kecamatan Long Mesangat.

Tak hanya di produksi, pengembangan sektor pertanian juga diarahkan ke sektor pariwisata melalui program agrowisata. Seperti Agrowisata Sawah di Teluk Pandan dan Agrowisata Bhuanasari di Kecamatan Kaubun.

“Di Agrowisata Teluk Pandan ada skuter (otopet) yang disewakan, kemudian di sana juga ada spot untuk berfoto-foto. Pada hari libur seperti Sabtu dan Minggu juga diadakan acara pasar untuk makanan-makanan tradisional,” ungkapnya.

Dengan berbagai terobosan ini, sektor pertanian diharap mampu menjadi penyangga ekonomi pasca tambang, sekaligus memperkuat kemandirian pangan daerah dan tidak kebergantungan pada impor dari luar daerah. (TS)

Loading