Relokasi Pasar Subuh Samarinda Sarat Masalah, Warga Merasa Tak Dilibatkan
Portalkatim.com, Samarinda — Pemkot Samarinda kembali menuai sorotan tajam. Relokasi paksa pedagang Pasar Subuh di Jalan Yos Sudarso Gang 3, Karang Mumus, Jumat (9/5/2025), berlangsung dalam suasana mencekam. Alih-alih menjadi solusi penataan kota, kebijakan ini justru memperlihatkan minimnya ruang partisipasi warga, terutama pelaku usaha kecil.
Tanpa kompromi berarti, ratusan aparat gabungan—Satpol PP, TNI, dan Polri—diturunkan untuk merobohkan lapak-lapak pedagang. Langkah ini memicu perlawanan dari warga dan mahasiswa yang lebih dulu memblokade jalan. Aksi dorong tak terhindarkan. Suara protes dan tangis kesal bercampur dengan bisingnya mesin pemotong lapak.
“Saya tidak tahu harus jualan di mana lagi,” ucap seorang ibu pedagang dengan nada putus asa, menyaksikan tempat usahanya dihancurkan begitu saja. “Kami belum siap pindah. Kami sudah 40 tahun di sini.”
Pemkot memang telah menunjuk Pasar Beluluq Lingau sebagai lokasi relokasi. Tapi kebijakan ini dinilai hanya berpindah masalah. Lokasinya jauh, akses sulit, dan belum terbukti mampu menopang ekonomi pedagang. Sebanyak 57 pedagang terdampak, namun tidak seluruhnya merasa dilibatkan atau memahami keputusan yang diambil pemerintah.
Proses relokasi yang dilakukan tanpa skema transisi yang matang, tanpa komunikasi dua arah, dan dengan pendekatan koersif aparat, menunjukkan wajah pembangunan yang lebih berpihak pada estetika kota ketimbang nasib warganya sendiri.
Kritik pun bermunculan. Relokasi dianggap hanya pendekatan teknokratis tanpa keberpihakan sosial. Tidak ada data rinci yang menunjukkan kesiapan pasar pengganti sebagai pusat ekonomi baru. Evaluasi dari relokasi pasar sebelumnya pun tidak dijadikan acuan.
Hingga siang hari, suasana mulai mereda, namun rasa frustasi belum surut. Aparat tetap bersiaga, sementara sebagian pedagang memilih tetap bertahan di lokasi—bukan karena keras kepala, tetapi karena tidak punya alternatif.
Dalam setiap pembangunan, pertanyaan dasarnya tetap sama: Untuk siapa kota ini dibangun? Dan siapa yang harus selalu menyingkir demi ‘keteraturan’? (SH)
![]()







