Inflasi Kutim Tembus 0,99 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional, Pemkab Pastikan Kondisi Masih Terkendali

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, pada Rakor oleh Kemendagri secara Daring

Portalkaltim.com, Kutai Timur — Pada Rapat Koordinasi (Rakor) pengendalian inflasi daerah yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), diketahui bahwa inflasi bulanan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Meski demikian, pemerintah daerah (Pemda) memastikan kondisi tersebut masih dalam batas aman dan belum memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi masyarakat.

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, mengungkapkan bahwa inflasi month-to-month di Kutim saat ini berada di angka 0,99 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,41 persen.

“Berdasarkan angka inflasi nasional month to month, ya, itu saat ini 0,9 sekian persen,” ujar Mahyunadi saat diwawancarai di Kantor Diskonminfo Kutim pada Senin (6/4/2026).

Meski dalam penyampaiannya terdapat perbedaan angka dengan data nasional, secara umum ia menegaskan bahwa kondisi inflasi di daerah masih relatif terkendali. Fluktuasi yang terjadi dinilai wajar, selama daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Ini cenderung fluktuatif, tapi kita cenderung aman sih angka inflasi di daerah. Asal kita punya daya beli yang cukup untuk bulan ini,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, tidak ditemukan lonjakan harga yang terlalu signifikan pada sebagian besar komoditas. Namun, harga telur menjadi salah satu yang mendapat perhatian karena cenderung tinggi dan mengikuti tren nasional.

Mahyunadi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan metode penghitungan antara daerah dan nasional. Di Kutim, telur dijual dalam satuan butir, sementara secara nasional dihitung per kilogram. Hal ini membuat perbandingan harga tidak sepenuhnya setara.

“Karena nasional itu hitungannya kilogram, kita jual di sini telur per butir, jadi susah untuk melakukan perhitungan yang akurat,” tuturnya.

Meski demikian, setelah dilakukan konversi, harga telur di Kutim diketahui lebih tinggi sekitar Rp4.700 per kilogram dibandingkan harga nasional. Kondisi ini dipengaruhi oleh biaya produksi, terutama pakan ternak yang masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Memang dari harga nasional kita lebih tinggi Rp4.700 per kilogram telur. Ini disebabkan karena pakannya memang susah didapatkan, kebanyakan dari Jawa,” ungkapnya.

Terkait dugaan penimbunan atau permainan harga, dirinya memastikan hal tersebut tidak terjadi di Kutim. Ia menegaskan bahwa harga komoditas secara umum masih berada dalam kondisi stabil.

“Enggak ada. Enggak ada di Kutim, cenderung stabil kok,” tegasnya.

Pemda juga akan terus menjaga kestabilan harga agar tetap selaras dengan kondisi nasional. Jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan, intervensi akan dilakukan melalui operasi pasar maupun penyediaan pasar murah.

“Kalau tidak stabil maka kita akan intervensi. Terutama operasi pasar dan pengadaan pasar-pasar murah,” sambungnya.

Dengan kondisi inflasi yang masih terkendali meski berada di atas angka nasional, pemerintah berharap keseimbangan antara harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga, sehingga aktivitas ekonomi di Kutim dapat terus berjalan stabil di tengah dinamika harga yang fluktuatif. (TS)

Loading


Warning: Attempt to read property "term_id" on false in /home/porn5411/public_html/wp-content/themes/umparanwp/widget/widget-collection.php on line 7