Pemkab Kutim Dorong Edukasi Pranikah lewat Genetika dan 1000 HPK untuk Tekan Stunting

Kepala DPPKB Achmad Junaidi

Portalkaltim.com, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus gencar dalam menurunkan angka stunting yang terus menjadi masalah utama di Kutim. Dalam podcast yang diadakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim.

1000 hari pertama kehidupan (HPK) dinilai sangat penting dalam menurunkan angka stunting. Kepala DPPKB Kutim Achmad Junaidi menegaskan bahwa topik yang dibawa ini menjadi fokus utama dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-32 Tingkat Kabupaten Kutim.

1000 HPK merupakan waktu emas sang anak untuk tumbuh dan berkembang. 270 hari ketika di dalam kandungan dan 730 hari setelah lahir sampai berusia 2 tahun dianggap sangat krusial dalam menentukan sifat dan karakter sang anak ketika sudah dewasa.

“Kalau kita bicara keluarga, berarti bicara cinta kasih kepada anak. Tapi kalau 1000 HPK diabaikan, cinta kasih itu jadi tidak bermakna,” ujar Junaidi kepada awak media seusai podcast, Selasa (9/9/2025).

Ia menegaskan, upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 harus dimulai sejak masa kehamilan, bukan hanya setelah sang anak telah lahir.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa Pemkab Kutim melalui Bupati Ardiansyah Sulaiman bersama dengan Wakilnya Mahyunadi mempunyai 50 program unggulan, yakni memiliki program pemberian buah dan susu gratis bagi ibu hamil dan menyusui.

“Dengan edukasi yang telah diterima tadi, program ini nantinya akan langsung menyasar anak yang berada di masa waktu 1000 HPK. Kalau menunggu anak lahir lalu baru intervensi, itu sudah terlambat,” ucapnya.

“Kolaborasi antarsektor diperlukan agar rencana yang dijalankan bisa lebih lancar dan efisien.

“Ada OPD, organisasi kemasyarakatan, media, hingga LSM. Kita punya data by name by address anak dan ibu hamil. Tinggal bagaimana semua pihak berkolaborasi memanfaatkan data itu,” jelasnya.

Selain itu, sifat dan karakter manusia juga bukan hanya dipengaruhi dari sisi medis, melainkan dari aspek genetika. Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba, dalam kesempatan yang sama juga menjelaskan bahwa gen dapat dipengaruhi oleh lingkungan melalui mekanisme epigenetik.

Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba
Direktur Golda Institut Indonesia (Pakar Golda) Eva Dipanti Tumba

“Gen itu cetak biru kehidupan. Tapi sifat gen bisa di-on atau off tergantung lingkungan, termasuk stres, gizi, dan pola asuh,” jelas Eva kepada awak media.

Edukasi genetika pranikah juga penting agar calon pasangan memahami risikonya sejak awal, termasuk perbedaan golongan darah yang bisa berpengaruh saat masa kehamilan.

Eva mengibaratkan persiapan pranikah itu seperti bertani.

“Kalau mau bibit bagus, tanah, pupuk, air, dan peralatannya harus dipersiapkan dengan benar. Begitu juga dengan manusia. Generasi berkualitas lahir dari perencanaan yang matang,” tegasnya.

Achmad Junaidi berencana akan kembali menggelar podcast lanjutan bersama dengan pakar genetika dan pihak Kementerian Agama dalam membahas bimbingan perkawinan serta edukasi pranikah bagi para remaja.

“Ini penting untuk membangun fondasi keluarga yang sehat, sehingga risiko stunting bisa ditekan sejak hulunya,” pungkasnya. (TS)

Loading