Kelebihan Tonase, Jalan Kutai Timur Terancam Rusak Lebih Cepat

Arfan, Anggota Komisi III DPRD Kaltim

Portalkaltim.com, Samarinda – Ketidaksesuaian antara kapasitas jalan dan beban kendaraan berat kembali memicu keprihatinan di Kutai Timur. Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Arfan, mengungkapkan bahwa infrastruktur jalan yang sempat membaik kini kembali rusak akibat banyaknya kendaraan alat berat yang melintas dengan muatan berlebih.

“Sebenernya jalannya agak sudah bagus, tapi di akhir tahun-tahun ini saya lihat hancur lagi. Karena saya melihat alat berat yang melintas itu melebih kapasitas. Jadi itu yang membuat cepat jalannya rusak,” kata Arfan dalam wawancara dengan wartawan.

Kerusakan ini tidak terjadi tanpa sebab. Dalam kajian rekayasa transportasi, setiap ruas jalan dibangun dengan struktur lapisan yang hanya mampu menanggung beban tertentu. Ketika kendaraan yang melintasi jalan membawa beban melebihi kapasitas rancangannya, maka kerusakan seperti retakan, lubang, hingga deformasi aspal menjadi hal yang tak terhindarkan.

Arfan menyebut bahwa kondisi jalan di Kutai Timur idealnya hanya mampu menampung beban maksimal 12-15 ton. Namun, kendaraan alat berat yang melintas di daerah tersebut sering kali memikul beban hingga 50-60 ton. Perbedaan mencolok ini membuat jalan-jalan cepat rusak, bahkan dalam waktu yang relatif singkat setelah diperbaiki.

“Nanti kemungkinan rapat berikutnya akan saya sampaikan, dan mudah-mudahan ada peraturan yang bisa dimulai supaya unit yang lewat itu diatur kapasitasnya,” lanjutnya.

Solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan ini tidak cukup hanya dengan perbaikan jalan. Diperlukan regulasi yang jelas dan pengawasan ketat terhadap tonase kendaraan, serta penegakan hukum yang efektif agar pengguna jalan mematuhi batasan kapasitas yang telah ditetapkan.

Jika kerusakan jalan terus dibiarkan tanpa intervensi kebijakan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemerintah dalam bentuk meningkatnya anggaran perbaikan. Masyarakat pun terkena imbasnya karena terganggunya arus barang, meningkatnya risiko kecelakaan, dan menurunnya kualitas pelayanan transportasi.

“Ini kan ada kapasitas sampai 50-60 ton, kapasitas jalan kita kan mungkin 12-15 ton. Itu sih kepingin yang saya curhat tadi, cuma belum ada kesempatan,” pungkasnya.

Loading