Panas! PUPR Tutup Mulut Soal Nasib Pekerja Teras Samarinda

Tangkap layar aksi kejar-kejaran antara awak media dan Kepala Dinas PUPR Samarinda Desi Damayanti (jilbab hitam)

Portalkaltim, Samarinda – Nasib puluhan buruh atas proyek Teras Samarinda masih luntang-lantung hingga detik ini. Sempat dilakukan beberapa kali audiensi bersama DPRD Samarinda dan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, tidak ada kejelasan yang dapat memuaskan pihak buruh.

Kisah ini berawal, 84 buruh Teras tidak mendapatkan gaji mereka sejak April 2024 lalu. Bahkan sampai Teras Samarinda diresmikan pada September 2024 dan menjadi salah satu objek wisata terkenal di Samarinda, tak ada niatan baik dari PT Samudera Anugerah Indah Permai (SAIP) selaku kontraktor beritikad baik melunasi pembayaran upah buruh.

Setidaknya ada dua kali diskusi untuk memanggil pihak PT SAIP guna dipertemukan bersama para buruh dan pemerintah, namun berulang kali dipanggil, tak sekalipun ada respon dari kontraktor.

Saat paling menegangkan ketika rapat dengar pendapat kedua dilakukan bersama anggota Komisi III DPRD Samarinda, para buruh berdemo pada Kamis (27/2/2025) di Gedung DPRD Kota Samarinda.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda selaku penghubung antara Pemkot dan kontraktor, kerap kali memberi respon yang tak jelas.

Saat diskusi, terjadi ketegangan intens antara perwakilan PUPR Samarinda dan DPRD Samarinda. Aksi lempar kotak nasi akibat oleh DPRD Samarinda ke PUPR akibat kekesalan yang sudah tidak terbendung. Dikarenakan, DPRD merasa kontraktor selama ini bungkam dan tidak merespon panggilan mereka, sedangkan pengakuan PUPR, respon kontraktor pada mereka lancar jaya.

Pada Senin (3/3/2025) seusai acara Buka Bersama Pemkot Samarinda di Gor Segiri Samarinda, saat disambangi awak media, Kepala Dinas PUPR Samarinda Desi Damayanti tutup mulut dan tak sedikitpun menanggapi pertanyaan.

“Tanyakan kepada pihak-pihak yang hadir pada rapat. Saya tidak mau menjawab,” katanya.

Awak media harus berlari mencari jawaban atas nasib para buruh, yang bahkan harus kehilangan tempat tinggal dan berteduh di gudang. Anak salah satu pekerja Teras yang menuntut ilmu di pesantren, turut menjadi korban sampai harus dikeluarkan dari masa pendidikannya.

Indahnya Teras dengan infrastruktur modernnya. Sejuknya Teras dengan angin sepoi-sepoinya. Nyamannya Teras untuk warga dan wisatawan bersantai, menyimpan sisi kelam dan menyayat hati para pekerjanya. Para buruh dan keluarganya membutuhkan keadilan!. (SH)

Loading